Jakarta, SeputarSumut — Sebuah pesan panjang yang ditujukan kepada rakyat Amerika Serikat (AS) serta masyarakat dunia baru saja dirilis oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Pesan ini muncul di tengah situasi panas konfrontasi yang melibatkan Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel.
Melalui pernyataan resminya di platform X pada Rabu (1/4), Pezeshkian menegaskan posisi Iran sebagai salah satu peradaban tertua yang secara historis tidak pernah menginisiasi peperangan di era modern. Ia menekankan bahwa meskipun Iran memiliki kekuatan militer yang signifikan dibanding negara-negara tetangganya, mereka tetap memilih untuk tidak melakukan agresi. Namun, sang Presiden memberikan catatan tegas bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan selalu berani memberikan perlawanan terhadap pihak-pihak yang mencoba menyerang kedaulatan mereka.
Dunia Internasional: Pesan Terbuka Presiden Iran untuk Warga Amerika Serikat di Tengah Ketegangan Global
Prinsip dasar Iran dalam berdiplomasi adalah menolak segala bentuk dominasi, kolonialisme, ekspansi, maupun agresi. Sikap ini tetap dipegang teguh oleh Teheran meskipun negara tersebut terus-menerus menghadapi tekanan global, invasi, hingga pendudukan wilayah oleh kekuatan asing. Pezeshkian menyatakan bahwa mengidentifikasi Iran sebagai sebuah ancaman adalah pandangan yang keliru dan bertentangan dengan fakta sejarah yang ada.
Penegasan mengenai hubungan antarmanusia juga disampaikan oleh Pezeshkian, yang menyebutkan bahwa bangsa Iran tidak menaruh kebencian terhadap rakyat negara lain, termasuk warga Amerika, Eropa, atau negara-negara Arab. Baginya, terdapat garis pemisah yang sangat jelas antara kebijakan pemerintah dengan aspirasi rakyatnya. Prinsip ini diklaim bukan sekadar strategi politik sementara, melainkan nilai yang sudah mendarah daging dalam budaya serta kesadaran kolektif masyarakat Iran.
Munculnya persepsi negatif terhadap Iran dianggap sebagai hasil dari kepentingan ekonomi dan politik pihak-pihak berkuasa untuk menciptakan sosok musuh. Strategi pembuatan “ancaman fiktif” ini dilakukan guna membenarkan tekanan internasional, menjaga hegemoni militer, serta mengamankan kontrol atas pasar strategis dunia. Pezeshkian menunjuk bukti nyata berupa penumpukan kekuatan militer dan basis pangkalan AS di sekeliling wilayah Iran, sebuah negara yang secara historis tidak pernah memulai perang sejak berdirinya Amerika Serikat.
Kehadiran militer Amerika di perbatasan Iran justru dinilai sebagai ancaman nyata, terutama melihat agresi militer yang baru-baru ini diluncurkan dari berbagai pangkalan tersebut. Pezeshkian meyakini bahwa negara mana pun di dunia tidak akan tinggal diam jika berada dalam posisi yang sama. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan yang diambil oleh Iran saat ini merupakan bentuk pembelaan diri yang sah dan terukur, bukan sebuah inisiatif untuk memulai perang.
Secara historis, hubungan antara Teheran dan Washington pada mulanya tidaklah dipenuhi permusuhan. Ketegangan baru muncul secara drastis sejak peristiwa kudeta tahun 1953, di mana Amerika Serikat melakukan intervensi ilegal demi menggagalkan upaya nasionalisasi sumber daya alam Iran. Peristiwa tersebut dianggap sebagai titik balik yang menghancurkan proses demokrasi, mengembalikan sistem kediktatoran, dan menyemai benih ketidakpercayaan mendalam rakyat Iran terhadap kebijakan luar negeri AS.
Rasa tidak percaya ini kian diperparah oleh rentetan kebijakan AS di masa lalu, mulai dari dukungan terhadap rezim Shah hingga sokongan bagi Saddam Hussein saat perang tahun 1980-an. Selain itu, pemberlakuan sanksi ekonomi paling komprehensif dalam sejarah serta agresi militer yang terjadi di tengah proses negosiasi menjadi bukti nyata tekanan yang dihadapi Iran. Namun, Pezeshkian menegaskan bahwa segala upaya untuk melemahkan Iran tersebut telah gagal total.
Iran justru membuktikan ketangguhannya dengan tumbuh lebih kuat di berbagai sektor strategis seperti teknologi, pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Meskipun kemajuan tersebut merupakan fakta yang dapat diobservasi, Pezeshkian mengakui bahwa dampak kemanusiaan dari sanksi dan agresi tetaplah destruktif. Pengeboman dan peperangan telah merusak tatanan kehidupan masyarakat, rumah, serta masa depan kota, sehingga wajar jika rakyat Iran tidak akan tinggal diam terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.
Dalam pesannya, Pezeshkian melemparkan pertanyaan retoris mengenai kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya sedang diperjuangkan melalui perang ini. Ia mempertanyakan apakah penghancuran fasilitas farmasi untuk pengobatan kanker atau pembantaian warga sipil memiliki tujuan selain merusak reputasi global Amerika Serikat sendiri. Ia mengingatkan bahwa Iran selalu memenuhi komitmennya dalam setiap perjanjian, sementara pemerintah AS justru sering kali menarik diri secara sepihak dan memilih jalur konfrontasi destruktif.
Serangan terhadap infrastruktur vital seperti industri dan energi dinilai Pezeshkian sebagai kejahatan perang yang secara langsung menargetkan rakyat Iran. Tindakan semacam itu dianggap sebagai tanda kebingungan strategis yang hanya akan melanggengkan siklus kebencian dan ketidakstabilan di tingkat internasional. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa AS saat ini sedang dikelabui oleh kepentingan rezim Israel untuk mengalihkan perhatian dunia dari isu kemanusiaan di Palestina.
Menutup pesan panjangnya, Pezeshkian mengajak seluruh warga dunia untuk melihat fakta secara jernih bahwa Iran bukanlah ancaman, melainkan bangsa yang selalu berkontribusi positif. Ia menekankan bahwa dunia kini berada di persimpangan jalan antara memilih jalur keterlibatan yang konstruktif atau konfrontasi yang sia-sia. Baginya, Iran yang telah bertahan selama ribuan tahun akan tetap berdiri dengan bermartabat, melampaui sejarah para agresor yang hanya akan meninggalkan nama buruk di masa depan.(*/cnni)


