Jakarta, SeputarSumut — Nikotin ternyata memiliki potensi terapeutik yang dapat digunakan untuk terapi gangguan saraf, meskipun zat ini lebih sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok dan berbagai risiko kesehatannya. Mitchell B. Liester selaku Assistant Clinical Professor di Department of Psychiatry, University of Colorado School of Medicine, mengulas bahwa kandungan yang membuat tembakau sangat adiktif ini mempunyai sifat neuroprotektif serta peningkatan kognitif yang unik berdasarkan validasi penelitian modern.
Tembakau atau Nicotiana rustica pada sejarahnya dipahami oleh masyarakat adat sebagai obat yang sakral dan menjadi bagian penting dari upacara penyembuhan. Citra masa lalu tersebut sangat berbeda dengan pandangan masyarakat masa kini yang menilai tembakau sebagai penyebab masalah kesehatan. Pemahaman mengenai potensi terapeutik dari kandungan ini muncul setelah melihat sejarah tembakau tradisional yang memuat senyawa alami serta murni, tanpa ratusan bahan kimia aditif seperti yang ditemukan pada rokok modern.
Pernik Ragam: Potensi Terapeutik Nikotin untuk Terapi Gangguan Saraf
Mekanisme kerja zat ini dijelaskan oleh Liester dalam ulasannya di laman Psychology Today. “Nikotin bekerja dengan mengikat reseptor di otak yang disebut ‘reseptor asetilkolin nikotinik.’ Reseptor ini penting dalam pembelajaran, memori, perhatian, dan neuroproteksi,” ujar Leister. Melalui pengaktifan reseptor otak tersebut, jalur seluler akan dipicu untuk membantu neuron tetap sehat, yang kemudian mendorong sel memproduksi protein pelindung agar sel otak tidak mati saat berada di bawah tekanan.
Zat ini juga mempunyai efek antiinflamasi di dalam otak. Kombinasi aksi neuroproteksi dan antiinflamasi tersebut menjadikannya berpotensi sebagai terapi untuk penyakit neurodegeneratif. Kendati demikian, ahli memberikan catatan bahwa nikotin yang digunakan harus dalam bentuk murni, bukan seperti yang ada pada rokok modern dengan kandungan banyak bahan kimia berbahaya. Tulisan dari Natasha Riyandani ini juga menyebutkan bahwa potensi terapi tersebut tampaknya divalidasi oleh sebuah riset yang menghubungkan antara nikotin dan penyakit Parkinson.
Sejumlah studi secara konsisten memperlihatkan bahwa kelompok perokok memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami penyakit Parkinson, walaupun dampak positif tersebut tentu saja perlu ditinjau kembali dari segi dosisnya. “Studi pada hewan telah menunjukkan bahwa nikotin dapat melindungi neuron dopaminergik, yaitu sel-sel otak yang rusak pada penyakit Parkinson,” imbuh Leister.
Di samping itu, potensi dalam hal kognitif juga ditunjukkan oleh zat ini. Berdasarkan studi oleh Vanderbilt University Medical Center, penggunaan nikotin dapat meningkatkan atensi, memori, serta pemrosesan kognitif, baik pada individu yang sehat maupun mereka yang sedang mengalami gangguan kognitif ringan. Walau menyimpan sederet potensi besar, penerapan nikotin untuk terapi gangguan saraf tetap masih perlu dikaji lebih mendalam lagi. Liester menyatakan bahwa saat ini para ahli sedang mengeksplorasi metode pemberian nikotin yang tepat tanpa harus membuat pasien terdampak oleh efek bahaya dari merokok.(*/cnni)


