Jakarta, SeputarSumut — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengeluarkan peringatan dini mengenai prakiraan musim kemarau tahun 2026 yang diproyeksikan tiba lebih cepat dibandingkan periode normal. Fenomena ini memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak karena adanya potensi cuaca kering yang ekstrem di berbagai penjuru tanah air.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa percepatan masuknya musim panas ini berkaitan erat dengan berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026 kemarin. Saat ini, situasi iklim di tingkat global dilaporkan telah memasuki fase transisi menuju kondisi netral.
Lintas Nasional: Prediksi BMKG Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering di Indonesia
Kondisi tersebut diperumit dengan adanya dinamika atmosfer dunia yang menunjukkan sinyal kuat kemunculan El Nino pada pertengahan tahun ini. Peluang terbentuknya fenomena iklim yang memicu kekeringan tersebut diprediksi berada pada angka 50 hingga 60 persen.
Berdasarkan catatan dari BMKG, permulaan musim kemarau diprediksi mulai menyentuh sekitar 114 Zona Musim pada April 2026. Area yang akan merasakan dampak awal ini meliputi wilayah pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga beberapa titik di Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara.
Cakupan wilayah yang terdampak diproyeksikan akan semakin luas hingga mencapai 184 Zona Musim saat memasuki bulan Mei 2026. Tren peningkatan ini diperkirakan terus berlanjut pada Juni dengan tambahan sekitar 163 Zona Musim lainnya yang juga mulai memasuki periode kemarau.
Ardhasena Sopaheluwakan selaku Deputi Bidang Klimatologi BMKG menjelaskan bahwa pergeseran musim ini akan terjadi secara gradual di seantero nusantara. Dari pemantauan tim ahli, hampir 50 persen dari total wilayah di Indonesia diproyeksikan akan mengalami pergantian musim yang lebih maju dari jadwal biasanya.
Secara lebih terperinci, BMKG memperkirakan sebanyak 46,5 persen wilayah Indonesia akan mengawali musim kemarau lebih dini. Di sisi lain, sebagian daerah diprediksi masih mengalami pergantian musim secara normal, sementara persentase kecil wilayah lainnya justru kemungkinan akan mengalami keterlambatan.
Daftar wilayah yang harus bersiap menghadapi kemarau lebih cepat mencakup mayoritas Pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta wilayah Kalimantan bagian selatan dan timur hingga menjangkau Papua. Perubahan jadwal musim ini patut diwaspadai karena berisiko memengaruhi berbagai sendi kehidupan dan aktivitas masyarakat.
Ancaman tahun ini tidak hanya terbatas pada waktu kedatangan yang lebih awal, namun juga intensitas kekeringan yang diperkirakan lebih parah dari biasanya. Mayoritas wilayah di Indonesia diproyeksikan akan memiliki tingkat curah hujan yang berada di bawah angka rata-rata tahunan.
Mengenai titik kulminasi musim panas, BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 untuk sebagian besar wilayah. Meskipun demikian, terdapat beberapa daerah tertentu yang berpotensi mengalami masa puncak lebih cepat pada Juli atau justru mundur hingga September.
Jangka waktu berlangsungnya musim kemarau kali ini juga diperkirakan akan memakan durasi yang lebih lama di lebih dari separuh wilayah tanah air. Situasi tersebut secara otomatis meningkatkan ancaman kekeringan yang nyata, serta berpotensi mengganggu stabilitas sektor pertanian dan ketersediaan cadangan air bersih.
Menyikapi data-data tersebut, BMKG memberikan rekomendasi kuat kepada pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk segera melakukan upaya mitigasi. Langkah-langkah strategis seperti manajemen stok air, penguatan ketahanan pangan, hingga modifikasi pola tanam menjadi sangat krusial untuk dilakukan guna menghadapi musim kering mendatang.(*/rri)


