Jakarta, SeputarSumut – Di tengah mayoritas mata uang Asia yang menguat, nilai tukar rupiah justru dibuka melemah. Pada perdagangan pasar spot hari Kamis (13/11) pagi, rupiah berada di posisi Rp16.732 per dolar AS, turun sebanyak 15 poin atau minus 0,09 persen.
Pelemahannya juga diperkirakan masih berlanjut sepanjang hari ini. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi mata uang Garuda masih akan tertekan terhadap dolar AS. Tekanan ini terjadi akibat adanya antisipasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia yang dijadwalkan pada pekan depan.
Berita Ekonomi: Prediksi Rupiah Tertekan, Dibuka Rp16.732 per Dolar AS di Pasar Spot
Meskipun demikian, Lukman Leong menyebutkan bahwa indeks dolar AS sendiri terpantau turun, hal ini terjadi menyusul adanya pernyataan dovish (cenderung melonggarkan kebijakan moneter) dari beberapa pejabat The Fed. Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp16.650 sampai Rp16.800 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya pagi ini menunjukkan penguatan. Dolar Singapura merangkak naik sebesar 0,01 persen, disusul dolar Hong Kong tumbuh 0,02 persen, peso Filipina naik 0,06 persen, yen Jepang plus 0,07 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,08 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia lainnya mengalami pelemahan. Penurunan dialami oleh yuan Tiongkok yang merosot 0,01 persen, baht Thailand minus 0,06 persen, won Korea Selatan jatuh 0,07 persen, dan rupee India ambruk 0,08 persen.
Selain di Asia, mata uang utama negara maju dominan dibuka loyo. Poundsterling Inggris jatuh 0,05 persen, euro Eropa merosot 0,01 persen, franc Swiss minus 0,04 persen, dan dolar Kanada turun 0,01 persen. Pengecualian terjadi pada dolar Australia yang justru terbang tinggi 0,28 persen.(*/cnni)


