Medan, SeputarSumut — Produksi tandan buah segar di wilayah Sumatera Utara melanjutkan tren peningkatan pada bulan Juli 2026 ini. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pabrik kelapa sawit untuk menaikkan penggunaan bahan baku tersebut.
Proyeksi kenaikan penggunaan bahan baku tandan buah segar di pabrik kelapa sawit bergerak variatif. Peningkatannya diperkirakan berada dalam rentang antara 3 persen hingga 14 persen secara bulanan.
Berita Ekonomi: Produksi TBS Sumut Naik, Ekspor Turun Turunan CPO Diproyeksikan Meningkat
“Meskipun naik secara bulanan, namun tidak semua pabrik kelapa sawit alami peningkatan penggunaan tandan buah segar jika dibandingkan dengan periode yang sama Juli 2025,” ujar Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin di Medan, Sabtu.
Pertumbuhan volume produksi tandan buah segar pada saat ini berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas dari tanaman kelapa sawit itu sendiri. Sementara itu, tingkat rendemen minyak kelapa sawit mentah terhadap tandan buah segar berada pada kisaran 18 persen sampai 21 persen.
Rasio antara minyak kelapa sawit mentah terhadap tandan buah segar terpantau masih bergerak pada rentang angka yang tidak jauh berbeda. Namun, situasi cuaca saat ini berpotensi memberikan dampak tersendiri terhadap angka rasio tersebut.
“Disaat intensitas hujan cukup signifikan seperti yang terjadi belakangan ini, umumnya rasio antara crude palm oil ke tandan buah segar berpeluang alami penurunan,” tuturnya.
Di samping itu, kebijakan mengenai aktivitas ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia sejauh ini belum memberikan dampak yang besar. Kebijakan tersebut belum memengaruhi kinerja ekspor minyak kelapa sawit secara signifikan dari wilayah Sumatera Utara.
Sebelumnya sempat beredar kabar di kalangan pelaku industri mengenai sikap yang diambil oleh sejumlah perusahaan pengolahan. Perusahaan pemurnian minyak sawit atau refinery dilaporkan akan mengambil langkah mengamati situasi terlebih dahulu.
“Meskipun beredar kabar bahwa perusahaan sawit akan lebih mengambil posisi ‘wait and see’ sampai nantinya peralihan penuh ekspor satu pintu oleh PT Danantara Sumber Daya Indonesia,” jelasnya.
Sampai saat ini, isu mengenai peralihan skema ekspor tersebut terbukti tidak memberikan banyak perubahan terhadap performa pengiriman komoditas sawit keluar negeri dari wilayah Sumatera Utara. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, tren kinerja ekspor justru masih memperlihatkan pergerakan yang positif.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa volume pengiriman ke luar negeri untuk beberapa jenis produk turunan diproyeksikan tetap tumbuh. Produk tersebut meliputi ‘Palm Fatty Acid Distillate’, olein, dan stearin dengan proyeksi pertumbuhan berkisar antara 2 persen hingga 6 persen.
“Kenaikan ekspor tersebut masih sejalan dengan peningkatan dari sisi produktivitas tandan buah segar,” paparnya.
Kondisi geopolitik global di luar negeri juga diprediksi tidak akan mengganggu stabilitas pasar komoditas ini. Ketegangan internasional yang terjadi di kawasan Timur Tengah dinilai belum berdampak pada tingkat konsumsi dunia.
“Dan perang yang berkecamuk di selat hormuz diperkirakan juga tidak akan banyak memicu perubahan ‘demand’ atau permintaan produk minyak kelapa sawit di pasar global,” pungkasnya.(Siong)

