seputar-Belawan | PT Pertamina International Shipping (PIS) operator tanker terbesar di Asia Tenggara bercita-cita memajukan dan meningkatkan kualitas pelaut-pelaut Indonesia agar mampu bersaing dengan Sumber Daya Manusia (SDM) pelaut dari negara lainnya di lingkungan maritim Internasional.
“Hal ini menjadi konsen PIS mengingat cakupan wilayah Indonesia 75 persen adalah laut maka kita bercita-cita memajukan pelaut-pelaut Indonesia agar lebih handal top of mind. PIS dalam menyediakan energi bagi bangsa tak mau hanya menjadi pelaku bisnis yang cuma ngantarin kargo yang diminta,” kata Corporate Secretary PIS, Muh Aryomekka Firdaus pada kegiatan Media Briefing Anugerah Jurnalistik Pertamina 2023 Teritori I Sumbagut di Belawan, Medan, Selasa (17/10/2023).
Info Medan: PT Pertamina International Shipping Bercita-cita Memajukan Pelaut Indonesia
Menurut Aryo, di lingkungan maritim Internasional pelaut-pelaut Indonesia saat ini masih kalah bersaing dengan pelaut negara lainnya baik itu dari segi kemampuan menjadi kru kapal maupun dalam hal penguasaan bahasa Inggris.

Corporate Secretary PIS, Muh Aryomekka Firdaus didampingi Manager Operasional Pertamina Trans Kontinental (PTK) Sumbagut, Capt Fadhly HR saat kegiatan Media Briefing Anugerah Jurnalistik Pertamina 2023 Teritori I Sumbagut di Belawan, Medan, Selasa (17/10/2023).(seputarsumut/Asiong)
“Terus terang, pelaut-pelaut Indonesia masih kalah bersaing dengan pelaut dari Asia seperti Filipina dalam hal penguasaan berbahasa Inggris,”ucap Aryomekka.
Untuk itu Aryomekka menekankan, PIS kedepannya akan menggulirkan program pemberian bantuan beasiswa bagi mahasiswa semester awal yang memiliki prestasi bagus di sekolah pelayaran guna menjaring pelaut-pelaut handal dan terbaik untuk mengawaki kapal-kapal tanker milik PIS dalam mendistribusikan dan memberi energi pada bangsa hingga ke seluruh pelosok Tanah Air.
“Tahun depan insyaallah nih, PIS sudah ada program pemberian bantuan pendidikan berupa beasiswa untuk mahasiswa semester pertama di sekolah-sekolah pelayaran,”ungkap Aryomekka .
Selain pemberiqn beasiswa, PIS juga memiliki program rutin lainnya bernama PIS Goes To Campus (PGTC) menyambangi sekolah-sekolah pelayaran yang untuk memotivasi mahasiswa maupun berbagi ilmu pengetahuan terkait bisnis perkapalan hingga teknologi apa saja yang digunakan kapal-kapal milik PIS.
“Program PGTC ke kampus dan sekolah pelayaran untuk meningkatkan skill, wawasan dan pengetahuan calon-calon pelaut muda Indonesia. Nah di tahun 2023 ini kami telah menyambangi sebanyak empat sekolah pelayaran di sejumlah lokasi seperti Kota Sorong, Makasar, Semarang dan Padang,”jelas Aryo.
Program lainnya tutur Aryomekka, adalah pertukaran kru untuk melakukan transfer pengetahuan dengan sejumlah perusahaan berstandar internasional di luar sana yang sebelumnya telah menjadi partner PIS.
“Selain mencari peluang bisnis kita melakukan pertukaran kru dalam bentuk kerja sama ship management dengan perusahaan-perusahaan penyedia awak dan kapal di luar sana dalam meningkatkan skill dan pengetahuan para pelaut kita,”tutur Aryomekka
Dalam hal ini kata Aryo, ada transfer knowledge, beberapa orang dari perusahaan yang bekerja sama dengan PIS akan menjadi ship management di kapal milik PIS. Kerja sama ship management tersebut sekaligus memitigasi risiko mengingat usia kapal sewa maupun kapal milik PIS yang tak lagi muda.
“Kehandalan kru operasional kapal sesuai standar-standar internasional sangat kita jaga mengingat usia kapal sewa maupun kapal milik PIS yang tak lagi muda. Saat ini PIS telah bekerja sama dengan 10 perusahaan ship management,”imbuh Aryomekka.
Terkait risiko dan waktu pekerjaan kru kapal yang bisa berbulan-bulan atau hingga bertahun-tahun tak pulang ke rumah lanjut Aryomekka, Direksi PIS senantiasa menjaga ikatan hubungan emosional tersebut dengan cara melakukan kunjungan menemui para kru kapal ataupun sebaliknya saat kru sedang sign off.
“Kalau kru kapal sedang sign off maka mereka yang kita undang ke kantor untuk bertemu dengan tim manajemen. Nah ternyata bentuk apresiasi seperti ini sangat disenangi teman-teman kita yang bekerja sebagai kru kapal di luar remunerasi yang hanya sebatas isi perut,”papar Aryomekka.
Dalam pertemuan itu cerita Aryomekka, biasanya para kru kapal sangat senang sekali saat diminta menceritakan pengalamannya ketika berada di laut dalam menjalankan tugas menyediakan energi bangsa hingga ke seluruh pelosok Tanah Air dan dunia.
“Selain menceritakan pengalaman, kru kapal juga kita ajak lebih kreatif untuk membuat konten-konten bagus diluar pekerjaannya tanpa mengabaikan keselamatan kerja saat melakukan pelayaran. Hasil dari konten-konten yang dibuat oleh kru kapal ternyata bagus-bagus, kita yang di darat jadi bisa ikut menikmati pemandangan-pemandangan yang selama ini tak pernah dilihat seperti saat kapal masuk ke terusan Suez, ke Sydney dan lokasi lainnya,”pungkas Aryomekka.
Manager Operasional Pertamina Trans Kontinental (PTK) Sumbagut, Capt Fadhly HR menyatakan bahwa menjadi seorang pelaut atau kru kapal tanker memiliki suka duka dan tantangan tersendiri apalagi jika sudah berlayar bisa berbulan-bulan tak pernah pulang ke rumah.
“Saya pernah menjadi pelaut selama 17 tahun, berlayar di tengah laut paling lama sebulan, paling cepat dua minggu. Terkadang kita dikontrak untuk berlayar selama setahun baru bisa pulang. Nah saat kita pulang anak kita bisa bingung, ini siapa ya, tidur saja kita bisa diusir. Terkadang pulang anak sudah tak kenal kita lagi, itu sudah biasa, suka duka bagi seorang pelaut,” cerita Capt Fadhly HR sambil terkekeh.
Untuk tantangan terberat bagi pelaut saat berlayar lanjut Fadhly HR adalah terletak pada cuaca yang terkadang bisa lebih ekstrim seperti di Papua dan di sisi Barat Sumatera karena berhadapan dengan laut lepas Samudera Hndia.
“Kalau untuk cuaca kita selalu memonitornya dari BMKG, baik itu untuk tinggi gelombang maupun kecepatan angin di laut.Inilah yang menjadi parameter kita saat kapal mau sandar dan lepas,”papar Fadhly HR yang pernah menjadi pelaut selama puluhan tahun ini.(Siong)
