Jakarta, SeputarSumut — Pertumbuhan fisik masyarakat Vietnam menunjukkan peningkatan signifikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Lonjakan tinggi badan rata-rata penduduk ini berhasil membawa Vietnam mengungguli posisi Indonesia dan Filipina dalam peringkat tinggi badan di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan data dari survei yang diselenggarakan oleh General Statistics Office serta National Institute of Nutrition Vietnam, rata-rata tinggi badan untuk pria di negara tersebut saat ini berada di angka 168,1 sentimeter, sedangkan untuk perempuan mencapai 156,2 sentimeter. Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Truong Hong Son selaku Direktur Vietnam Institute of Applied Medicine.
Pernik Ragam: Rata-Rata Tinggi Badan Penduduk Vietnam Melonjak Salip Indonesia dan Filipina
Apabila menilik pergerakan data selama 10 tahun ke belakang, tinggi badan pria Vietnam mengalami penambahan sebesar 3,7 sentimeter, dan untuk kelompok perempuan tercatat naik 2,6 sentimeter. Lewat pencapaian tersebut, posisi Vietnam kini melesat ke peringkat keempat di Asia Tenggara dalam hal rata-rata tinggi badan tertinggi, tepat berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Mengutip laporan dari VNExpress, pertumbuhan yang dialami oleh masyarakat Vietnam saat ini dikategorikan sebagai fase paling cepat sepanjang sejarah berdirinya negara tersebut. Fenomena ini bahkan disandingkan oleh Son dengan masa keemasan yang pernah dilewati Jepang pada kurun waktu pertengahan 1950-an hingga 1990-an, di mana pascaperang kala itu, tinggi badan pria Jepang terdongkrak sampai lebih dari 10 sentimeter.
Kendati mengalami kenaikan yang pesat, standar fisik masyarakat Vietnam secara umum dinilai masih berada di bawah angka rata-rata global. Kelompok pria muda di Vietnam tercatat masih memiliki postur sekitar 3 sentimeter lebih pendek jika dihadapkan dengan rata-rata pria di dunia yang menyentuh angka 171 sentimeter.
Son memaparkan terdapat tiga aspek mendasar yang sampai sekarang masih menjadi pengganjal bagi optimalnya perkembangan tinggi badan warga Vietnam. Ketiga kendala tersebut meliputi pola konsumsi yang minim kandungan mikronutrien, kebiasaan hidup yang kurang sehat, hingga minimnya kegiatan fisik yang dilakukan oleh anak-anak pada usia sekolah.
Secara ilmiah, kontribusi dari faktor genetika atau keturunan sebenarnya hanya memegang porsi sekitar 23 persen dalam menentukan tinggi badan seseorang. Faktor asupan nutrisi memegang andil lebih besar yaitu sekitar 32 persen, sedangkan porsi selebihnya ditentukan oleh intensitas olahraga serta pemenuhan kualitas tidur.
Lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah di Vietnam juga disorot oleh Son karena dianggap belum sepenuhnya optimal dalam mengedukasi siswa mengenai gizi seimbang serta menanamkan pola hidup yang aktif. Selain masalah edukasi di sekolah, dinamika perubahan lingkungan serta kemunculan pola penyakit baru ikut diidentifikasi sebagai tantangan pelengkap yang harus dihadapi.
Merespons situasi ini, pihak otoritas Vietnam mulai mengintegrasikan agenda peningkatan tinggi badan penduduk ke dalam program strategis pengembangan kualitas sumber daya manusia negara. Komitmen tersebut diperkuat melalui salah satu resolusi Politbiro Vietnam pada tahun 2025, yang menetapkan target pertumbuhan tinggi badan rata-rata bagi anak-anak dan remaja di rentang usia 1 sampai 18 tahun minimal sebesar 1,5 sentimeter pada tahun 2030 mendatang.
Melalui proyeksi berdasarkan tren pertumbuhan yang tengah berjalan sekarang, Son memberikan estimasi bahwa pada tahun 2030, angka rata-rata tinggi badan untuk kelompok pria Vietnam berpotensi menyentuh 172 sentimeter, sementara untuk kelompok perempuan dapat menyentuh kisaran 159 sentimeter.(*/cnni)


