Jakarta, SeputarSumut — Pemerintah Rusia secara resmi menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada permohonan bantuan militer yang diajukan oleh Iran terkait pasokan senjata selama masa peperangan melawan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut sekaligus menepis spekulasi mengenai keterlibatan langsung Moskow dalam memasok alutsista tambahan ke Teheran dalam waktu dekat.
Dmitry Peskov, selaku Juru Bicara Kremlin, memberikan klarifikasi tersebut pada Kamis (5/3) guna merespons pertanyaan para jurnalis mengenai potensi pengiriman persenjataan ke wilayah Iran. Ia menegaskan bahwa koordinasi bantuan militer hanya dilakukan berdasarkan permintaan resmi antarnegara.
Dunia Internasional: Respon Rusia Terkait Isu Suplai Persenjataan untuk Iran di Tengah Konflik Melawan AS-Israel
“Sejauh ini, pihak Iran tidak mengajukan permintaan apa pun terkait masalah ini. Posisi konsisten yang kami miliki sudah dipahami secara luas oleh publik dan tidak ada pergeseran sikap dari pihak kami,” ungkap Peskov dalam keterangannya.
Sorotan dunia internasional tertuju tajam pada Rusia mengingat Iran terus mendapat gempuran masif dari militer Amerika Serikat dan Israel sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu. Banyak pihak menanti langkah apa yang akan diambil oleh Moskow sebagai sekutu dekat Teheran.
Eratnya kerja sama di bidang keamanan dan pertahanan antara Moskow dan Teheran menjadi alasan utama munculnya berbagai asumsi tersebut. Publik mempertanyakan komitmen Rusia dalam mendukung Iran, terutama mengenai dukungan logistik persenjataan di tengah agresi militer yang kian meningkat di Timur Tengah.
Menanggapi absennya permohonan bantuan dari Teheran, Peskov menyatakan bahwa Kremlin sangat menghormati keputusan kedaulatan Iran tersebut. Namun, ia kembali memberikan penekanan bahwa kualitas hubungan bilateral serta kemitraan strategis kedua negara akan tetap terjaga dengan kuat.
Perlu diingat bahwa tahun lalu, Iran dan Rusia telah memperbarui komitmen jangka panjang mereka melalui kesepakatan kemitraan strategis yang berlaku hingga 20 tahun mendatang. Perjanjian ini mencakup berbagai sektor krusial, termasuk energi dan pertahanan.
Rusia pun memiliki peran penting dalam infrastruktur nuklir Iran dengan membangun dua fasilitas pembangkit baru di situs Bushehr. Proyek ini merupakan satu-satunya instalasi tenaga nuklir yang beroperasi di wilayah Iran hingga saat ini.
Sebagai bentuk timbal balik dari kerja sama tersebut, Iran sebelumnya telah menyokong militer Rusia dengan mengirimkan pasokan drone kamikaze jenis Shahed. Teknologi tersebut digunakan secara intensif oleh Moskow dalam operasi militernya di wilayah Ukraina.
Meskipun memiliki hubungan yang sangat dekat, sejumlah pengamat menilai ada alasan logis mengapa Rusia belum turun tangan membantu Iran secara militer. Fokus Moskow diyakini masih sepenuhnya terserap oleh konflik yang sedang berlangsung di tanah Ukraina.
Matt Gerken, yang menjabat sebagai Kepala Ahli Strategi Geopolitik di BCA Research, berpendapat bahwa perang panjang di Ukraina telah menguras sumber daya militer Rusia. Hal ini membuat kemampuan Rusia untuk menyebarkan kekuatan militernya di luar perbatasan nasional menjadi sangat terbatas.
Tekanan ekonomi akibat sanksi bertubi-tubi dari negara-negara Barat juga disebut telah melemahkan posisi tawar serta pengaruh Moskow di kawasan Timur Tengah. Kondisi militer yang sudah sangat sibuk di garis depan Ukraina membuat Rusia sulit untuk membuka front bantuan baru.
Sementara itu, Ellen Wald selaku Presiden Transversal Consulting, melihat sudut pandang yang berbeda di mana Rusia dianggap cukup diuntungkan oleh situasi di Timur Tengah. Menurutnya, konflik di Iran berhasil mengalihkan perhatian dunia serta kebijakan Donald Trump dari isu Rusia.
“Menurut pandangan saya, Putin nampaknya cukup puas dengan kondisi saat ini karena fokus internasional terpecah. Namun, ia menyadari bahwa setelah urusan di Iran mereda, Trump kemungkinan besar akan kembali memusatkan perhatiannya kepada Rusia,” jelas Wald dalam analisisnya.(*/cnni)


