Medan, SeputarSumut – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan sebesar 1,85% di level 8.570,254 pada perdagangan Selasa (25/11/2025). Kinerja penguatan IHSG ini tergolong lebih tinggi dibandingkan sebagian besar bursa saham di Asia lainnya yang juga ditutup menguat namun terbatas.
Penguatan IHSG yang mencetak rekor tertinggi baru ini didorong oleh kinerja positif dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Beberapa emiten yang menjadi penopang utama penguatan tersebut di antaranya adalah BBCA, BMRI, BBRI, BREN, hingga PTRO.
Berita Ekonomi: Rupiah Menguat, IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru
Di saat yang sama, kinerja mata uang Rupiah yang mampu melawan tekanan Dolar AS turut mendorong sentimen positif di pasar saham. Rupiah, setelah sempat melemah di atas Rp16.700 per US Dolar, berhasil berbalik arah dan ditutup stabil di level Rp16.690.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai lonjakan IHSG hari ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ke depan.
”Penguatan signifikan IHSG yang mencapai level tertinggi barunya ini, menurut saya, lebih dipengaruhi oleh ekspektasi pasar bahwa tren suku bunga acuan ke depan akan berada dalam tren penurunan,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Selasa (25/11/2025).
Gunawan menambahkan bahwa tren ekspektasi penurunan suku bunga juga tercermin dari pergerakan harga komoditas logam mulia. Harga emas, misalnya, ditransaksikan stabil cenderung naik pada perdagangan hari ini, berada di kisaran harga $4.070 per ons troy, atau sekitar Rp2,2 juta per gram. Kinerja harga emas ini relatif diuntungkan oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya menunjukkan pelemahan.
”Harga emas cenderung stabil hingga naik karena adanya rilis data ekonomi AS yang melemah beberapa waktu lalu. Ini semakin memperkuat harapan pasar akan pelonggaran moneter,” jelasnya.
Meski demikian, Gunawan Benjamin mengingatkan bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Pasar saat ini menanti rilis data penting dari AS, yaitu data inflasi produsen dan data penjualan ritel. Kedua data ini berpotensi besar untuk mengubah arah pergerakan pasar selanjutnya.
”Saya melihat, penurunan kinerja inflasi dan memburuknya penjualan ritel AS berpeluang menjadi kabar baik bagi harga Emas, Rupiah, dan juga IHSG ke depan. Data-data tersebut akan menjadi penentu sentimen pasar dalam beberapa waktu ke depan,” tutup Gunawan.(Siong)


