Jakarta, SeputarSumut – Penyusutan massa otot atau sarkopenia sering kali disalahpahami sebagai gangguan kesehatan yang hanya menyerang orang tua. Padahal, fenomena berkurangnya jaringan otot ini sebenarnya telah dimulai secara perlahan sejak seseorang menginjak usia 30-an.
Proses hilangnya massa otot merupakan fase alami yang tidak mungkin dielakkan oleh manusia, menurut penjelasan Dokter spesialis penyakit dalam, Vardian Mahardika. Meski demikian, cepat atau lambatnya penyusutan tersebut sangat bergantung pada pola hidup yang dijalani setiap individu.
Pernik Ragam: Sarkopenia Bukan Sekadar Masalah Bagi Lansia
“Massa otot secara natural akan menyusut setelah kita melewati usia 30 tahun, dengan rata-rata penurunan sekitar 3 hingga 8 persen per dekade. Bahkan dalam kondisi tubuh sedang beristirahat total pun, jaringan otot akan tetap mengalami penyusutan,” papar Vardian dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat (30/1).
Inilah yang disebut sebagai sarkopenia, sebuah kondisi ketika massa, kekuatan, serta fungsi otot mengalami penurunan secara progresif. Walaupun penuaan menjadi pemicu utama, kondisi ini dapat timbul lebih awal akibat faktor kurang gerak, penyakit tertentu, atau kondisi malnutrisi.
Vardian menekankan bahwa peran otot jauh lebih luas daripada sekadar alat penggerak tubuh. Otot merupakan organ hidup yang memegang peranan krusial bagi metabolisme dan kelangsungan fungsi organ lainnya.
“Otot adalah lokasi penyimpanan gula paling efektif dalam tubuh kita. Apabila kapasitas ‘gudang’ otot memadai, maka gula akan diserap ke sana dan tidak beralih menjadi tumpukan lemak yang berbahaya,” lanjutnya.
Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah menjaga kestabilan hormon estrogen dan testosteron, serta berperan sebagai peredam peradangan internal. Kekuatan otot juga bertindak sebagai penyangga tulang dan sendi yang handal, sehingga mampu meminimalisir risiko cedera saat melakukan aktivitas fisik yang berat.
Melihat vitalnya peran tersebut, Vardian menganalogikan pembentukan otot sebagai bentuk investasi kesehatan untuk masa tua.
“Sangat penting untuk mulai melakukan ‘tabungan’ otot sejak usia 30-an. Lakukanlah latihan angkat beban karena peran otot memang sangat signifikan bagi kualitas hidup,” imbaunya.
Kerap kali perkembangan sarkopenia terjadi secara halus dan tanpa disadari oleh penderitanya. Ada beberapa indikator utama yang patut diwaspadai sebagai gejala awal, antara lain:
* Munculnya kelemahan fisik, misalnya kesulitan saat berdiri dari posisi duduk atau saat naik tangga.
* Daya tahan tubuh yang menurun ditandai dengan perasaan cepat lelah.
* Secara visual otot tampak mengecil karena berkurangnya massa.
* Hilangnya keseimbangan yang membuat seseorang lebih rentan terjatuh.
Apabila dibiarkan tanpa penanganan, sarkopenia berisiko memicu disabilitas fisik jangka panjang hingga hilangnya kemandirian seseorang dalam beraktivitas.
Terdapat beragam faktor risiko yang dapat mempercepat laju penyusutan otot selain faktor usia yang biasanya mulai terasa signifikan pada dekade ke-4 atau ke-5 kehidupan, yaitu:
* Kurangnya aktivitas olahraga atau gaya hidup yang terlalu banyak duduk (sedentari).
* Asupan gizi yang buruk, terutama jika tubuh kekurangan asupan kalori dan protein.
* Riwayat penyakit kronis berat seperti gangguan jantung, ginjal, atau infeksi HIV/AIDS.
Untuk mendeteksi kondisi ini, tenaga medis dapat melakukan diagnosis melalui kuesioner khusus, tes kekuatan genggaman, hingga pengukuran lingkar betis (pria di bawah 34 cm dan wanita di bawah 33 cm). Pemeriksaan yang lebih akurat juga bisa ditempuh melalui metode BIA atau DEXA.
Strategi utama untuk mencegah dan menangani sarkopenia adalah dengan mengombinasikan latihan beban serta pemenuhan nutrisi protein yang memadai. Jenis latihan ketahanan (resistance training) telah teruji secara klinis mampu merangsang pertumbuhan sel otot baru sekaligus mempertahankan massa yang sudah ada.
Menyadari dan menangani gejala sarkopenia sejak dini merupakan kunci utama untuk mempertahankan kualitas hidup hingga masa senja. Memulai rutinitas gerak dan melatih otot saat ini merupakan langkah nyata untuk menjamin kesehatan di masa mendatang.(*/cnni)


