Jakarta, SeputarSumut — Pemerintah Iran secara terbuka mengabaikan berbagai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai terlalu banyak bicara serta menantang balik ultimatum perang yang dilontarkan pemimpin negara tersebut. Sikap ini muncul sebagai reaksi atas ketegangan yang kian memuncak di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
Pandangan mengenai cara menghadapi Trump disampaikan oleh Saeed Jalili yang merupakan anggota Dewan Penentu Kebijakan atau Expediency Discernment Council Iran. Jalili berpendapat bahwa mendiamkan sang presiden bukanlah sebuah pendekatan yang tepat dalam situasi diplomasi saat ini.
Dunia Internasional: Tanggapan Iran Terhadap Ancaman Militer Donald Trump dan Situasi Terkini Selat Hormuz
Menurut Jalili membiarkan presiden Amerika Serikat yang kini berusia 79 tahun tersebut berkata semaunya justru akan memberikan keuntungan bagi pihak Iran. Ia menilai pernyataan pernyataan provokatif tersebut secara tidak langsung justru mengungkap karakter asli Amerika Serikat kepada dunia internasional.
Melalui unggahan di platform media sosial X Jalili menegaskan bahwa memberikan respons diam bukan merupakan tindakan yang pas terhadap apa yang ia sebut sebagai ocehan Trump. Ia justru menyarankan agar membiarkan Trump berbicara lebih banyak karena hal itu dianggap efektif untuk memperlihatkan wajah asli Amerika Serikat.
Serangan verbal dari pihak Iran ini diluncurkan setelah Donald Trump memberikan ancaman serius dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin 6 April 2026. Dalam kesempatan itu Trump mengancam akan melenyapkan wilayah Iran hanya dalam kurun waktu satu malam saja.
Ultimatum terbaru dari Trump tersebut muncul seiring dengan desakan keras Washington agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz serta melakukan negosiasi terkait gencatan senjata. Sebelumnya Trump bahkan melontarkan ancaman ekstrem untuk menjadikan wilayah Iran layaknya neraka jika akses Selat Hormuz tidak dibuka sesuai tenggat waktu yang ia tentukan.
Presiden Amerika Serikat tersebut mengeklaim bahwa kekuatan militer negaranya mampu menghancurkan seluruh situs energi serta berbagai infrastruktur vital milik Iran lainnya hanya dalam waktu empat jam. Ancaman ini akan segera dilaksanakan apabila masa berlaku ultimatum yang ia berikan telah habis.
Menanggapi hal tersebut pihak militer Iran memberikan penegasan bahwa retorika angkuh Trump terkait potensi perang di Timur Tengah sama sekali tidak akan menghambat pergerakan pasukan mereka. Angkatan bersenjata Iran menilai bahwa segala ancaman verbal yang dilontarkan Trump selama ini tidak memberikan dampak apa pun terhadap kesiapan tempur mereka.
Juru bicara markas komando pusat Iran Khatam Al Anbiya melalui media penyiaran nasional menyebut retorika presiden AS tersebut sebagai tindakan kasar arogan dan delusional. Ia menyatakan bahwa ancaman tidak berdasar itu tidak akan memengaruhi kelanjutan operasi ofensif maupun defensif yang dilakukan oleh para pejuang Islam dalam menghadapi pihak Amerika dan Zionis.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan masa berlaku ultimatum Trump terhadap Iran akan segera berakhir pada hari ini Selasa 7 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat. Situasi di kawasan tersebut kini berada dalam status siaga tinggi menanti perkembangan lebih lanjut setelah tenggat waktu terlampaui.
Dalam keterangan pers sebelumnya Trump memberikan rincian rencana serangan yang akan merontokkan seluruh fasilitas publik mulai dari jembatan hingga pembangkit listrik di Iran. Ia mengeklaim bahwa setiap infrastruktur jembatan akan hancur lebur pada tengah malam ini dan seluruh pasokan listrik akan berhenti total akibat ledakan yang tidak akan bisa diperbaiki lagi.
Dikutip dari laporan Al Jazeera Trump menekankan bahwa kehancuran total tersebut dapat terjadi dalam jangka waktu yang sangat singkat yakni hanya empat jam karena keunggulan kekuatan militer yang dimiliki Amerika Serikat. Meskipun melontarkan ancaman yang sangat destruktif ia juga menambahkan pernyataan bahwa sebenarnya pihak Amerika Serikat tidak menginginkan skenario buruk tersebut benar benar terjadi.(*/cnni)


