Jakarta, SeputarSumut – Tanoto Foundation meluluskan sembilan angkatan perdana Tanoto Fellows sebutan untuk peserta program beasiswa dan mengukuhkan 10 fellows baru angkatan 2025. Program ini bertujuan mencetak pemimpin muda yang siap menjadi aktor pembangunan, menciptakan solusi, dan menggerakkan perubahan di bidang pendidikan dan sektor strategis lainnya di Indonesia.
Program Tanoto Foundation Fellowship menjadi relevan di tengah tantangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Berdasarkan laporan Human Capital Index (HCI) Bank Dunia 2020, skor Indonesia hanya 0,54, jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia (0,62) dan Thailand (0,61). Angka ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia berisiko kehilangan potensi besar dalam keterampilan dan produktivitas, yang dapat menghambat pencapaian target Visi Indonesia Emas 2045.
Info Medan: Tanoto Foundation Cetak Pemimpin Muda, Akselerasi SDM Unggul Indonesia
Menurut Belinda Tanoto, Anggota Dewan Wali Amanat Tanoto Foundation, program ini dirancang untuk mengisi kesenjangan talenta yang holistik dan memiliki misi. “Kami ingin menumbuhkan generasi pemimpin baru yang tidak hanya memiliki kapabilitas, tetapi juga tujuan yang kuat, berkomitmen memahami isu akar rumput, dan melayani komunitasnya,” ujar Belinda.
Dari Papua hingga London, Angkatan 2025 Hadirkan Keberagaman
Tahun ini, 10 Tanoto Fellows angkatan 2025 telah terpilih dari lebih dari 1.300 pendaftar. Mereka akan terjun langsung ke ekosistem pendidikan dan kesehatan di empat provinsi mitra Tanoto Foundation: Sumatera Utara, Riau, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Para fellows baru ini berasal dari beragam latar belakang, mulai dari konservasionis laut asal Papua, peneliti ekonomi-politik lulusan London, hingga aktivis sosial di bidang pendidikan dan kesehatan.
Berikut adalah daftar 10 Tanoto Fellows angkatan 2025:
- Julia Rosemary Tapilatu: Konservasionis laut asal Papua, pendiri OurConservaSea.
- Ghefira Auliya Rabbani: Aktivis pengembangan pemuda dan advokasi literasi.
- Kevin Angdreas: Peneliti ekonomi-politik internasional, lulusan London School of Economics.
- Dinda Kayana Rizky: Co-founder Urbanist Indonesia, berdedikasi pada pembangunan kota inklusif.
- Ansar Ahmad: Kepala Fundraising Shantanu Indonesia, fokus pada pemberdayaan akar rumput.
- Arief Rahman Nur Fadhilah: Konselor karier dan pelatih kepemimpinan.
- Stephanie Dinda Iskandar: Pendiri dan CEO Green Neighbour Indonesia, bergerak di solusi iklim.
- Jordi Hildianto: Advokat kesehatan mental remaja, berpengalaman bersama UNICEF.
- Salsabila Hardiyanti Warmanda: Berdedikasi pada pendidikan inklusif dan kesehatan mental.
- Eka Hermansyah: Profesional pendidikan yang berkomitmen pada kesetaraan hak anak.
Tantangan untuk Fellows: Bertindak Berdasarkan Data dan Kembali ke Desa
Acara kelulusan dan pengukuhan yang bertajuk “Legacy in Motion” ini turut dihadiri oleh para mitra pembangunan. Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, berpesan agar para fellows selalu berpikir berdasarkan data dan fakta. “Dengan membiasakan diri melakukan riset dan analisis, kita akan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat,” ucap Amalia.
Senada dengan itu, Presiden Direktur Amartha Foundation, Aria Widyanto, berpesan agar para fellows tidak melupakan asal mereka. “Kita butuh lebih banyak anak berprestasi yang mau kembali untuk membangun desa,” tutur Aria, yang menyebut bahwa banyak sarjana pertama dari kampungnya yang didukung Amartha Foundation.
Belajar Langsung, Berdampak Nyata
Tanoto Foundation Fellowship Program
mengusung metode experiential learning. Selama satu tahun, para fellows akan menjalani lima tahap pembelajaran, dari orientasi hingga implementasi inisiatif. Mereka juga mendapatkan pendampingan intensif melalui coaching dan mentoring dari para ahli.
Model ini dirancang agar peserta tidak hanya berkembang secara profesional, tetapi juga mengalami transformasi pribadi sebagai pemimpin yang rendah hati, tangguh, dan visioner. Setelah lulus, para alumni akan tergabung dalam Tanoto Fellows Network, sebuah wadah untuk terus berkolaborasi dan belajar sepanjang hayat.
Belinda Tanoto menutup acara dengan pesan bahwa “Para fellows menunjukkan bahwa transformasi dimulai dari dalam diri, lalu meluas ke masyarakat. Tanoto Fellows adalah warisan yang terus bergerak dan hidup dalam setiap langkahnya,”tutupnya.(REL/Siong)


