Jakarta, SeputarSumut — Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra menetapkan target besar bagi warga terdampak di Provinsi Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Seluruh pengungsi yang saat ini masih mendiami tenda-tenda darurat diprioritaskan untuk segera dipindahkan ke kediaman yang lebih representatif sebelum hari raya Idulfitri 2026 tiba.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra dalam agenda Rapat Koordinasi Tingkat Menteri di Kantor Kemenko PMK Jakarta, Jumat (27/2). Dalam arahannya, Tito menekankan bahwa mobilisasi warga dari pengungsian merupakan pilar utama dalam akselerasi fase rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak.
Lintas Nasional: Target Relokasi Pengungsi Sumatra: Satgas PRR Targetkan Tenda Darurat Kosong Sebelum Idulfitri 2026
“Target kami adalah menyelesaikan pemindahan ini sesegera mungkin sebelum Idulfitri. Harapannya, tidak ada lagi warga yang bertahan di tenda, melainkan sudah menempati hunian sementara (huntara) atau telah mendapatkan dana tunggu hunian yang disediakan pemerintah,” jelas Tito.
Berbagai skema percepatan terus diupayakan oleh Satgas PRR untuk mendukung kenyamanan warga, mulai dari pembangunan infrastruktur fisik hingga bantuan finansial. Hal ini mencakup pengerjaan proyek hunian tetap (huntap), penyediaan huntara, serta mekanisme penyaluran dana tunggu hunian bagi masyarakat.
Menilik data progres Satgas PRR per 27 Februari 2026, realisasi pembangunan huntara di tiga provinsi tersebut telah mencapai 10.498 unit. Angka ini setara dengan 57 persen dari total target keseluruhan yang ditetapkan sebanyak 18.253 unit bangunan.
Paralel dengan penyediaan hunian sementara, proyek hunian tetap (huntap) juga terus menunjukkan kemajuan di lapangan. Dari total kebutuhan 36.669 unit, sebanyak 1.363 unit saat ini sedang dalam tahap konstruksi, bahkan enam unit huntap di wilayah Sumatra Barat dilaporkan telah rampung 100 persen.
Di sisi lain, mekanisme bantuan untuk rumah warga yang mengalami kerusakan terus digulirkan secara terencana dan bertahap. Verifikasi terhadap lebih dari 73.000 unit rumah kategori rusak ringan hingga berat terus dipacu agar dana stimulan dapat segera dicairkan untuk perbaikan mandiri oleh masyarakat.
Kelancaran seluruh proses ini dipastikan melalui koordinasi intensif yang melibatkan lintas kementerian, lembaga, serta jajaran pemerintah daerah. Sinergi strategis dibangun melibatkan Kementerian PUPR, BNPB, Danantara, hingga pemerintah tingkat provinsi serta kabupaten/kota setempat.
Secara statistik, jumlah penduduk yang berada di posko pengungsian telah mengalami penurunan yang sangat drastis jika dibandingkan masa darurat awal. Dari angka awal yang menyentuh lebih dari dua juta jiwa pada akhir tahun lalu, kini per 27 Februari 2026 hanya tersisa 11.307 jiwa yang masih menetap di tenda.
Distribusi sisa pengungsi tersebut mayoritas berada di Provinsi Aceh dengan jumlah 10.394 jiwa, sementara di Sumatera Utara masih tercatat 913 jiwa. Untuk wilayah Sumatra Barat, seluruh warga dilaporkan telah sepenuhnya meninggalkan tenda-tenda darurat dan beralih ke lokasi hunian yang lebih baik.(*/cnni)


