Jakarta, SeputarSumut — Bagi penderita hipertensi, mempertahankan stabilitas tekanan darah selama menjalankan ibadah puasa merupakan tantangan yang nyata, khususnya jika pola makan ketika sahur dan berbuka tidak terjaga dengan baik.
Lonjakan tekanan darah secara mendadak sering kali dipicu oleh kebiasaan makan yang salah, seperti mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan serta asupan garam yang tidak terkontrol.
Pernik Ragam: Tekanan Darah Stabil Saat Puasa Jadi Tantangan
Dokter Johanes Chandrawinata, seorang spesialis gizi, memberikan penegasan bahwa pemilihan jenis makanan yang tepat serta pengaturan asupan garam saat sahur dan berbuka adalah kunci utama agar puasa tetap aman bagi pengidap darah tinggi.
Agar kondisi tekanan darah penderita hipertensi tetap terjaga selama bulan puasa, terdapat beberapa poin krusial yang wajib mendapatkan perhatian khusus.
1. Membatasi Konsumsi Garam
Kesadaran untuk mengurangi asupan garam harus ditingkatkan oleh penderita hipertensi selama berpuasa karena kadar garam yang terlalu tinggi dapat membebani kerja jantung dan menaikkan tekanan darah.
“Hindari makanan yang banyak mengandung garam, seperti kerupuk, keripik, ikan asin, telur asin ya, dan juga makanan kalengan,” tutur Johanes saat memberikan keterangan pada Selasa (10/2).
Menurut penjelasan Johanes, makanan olahan biasanya memiliki kandungan garam yang sangat tinggi. Risiko kenaikan tekanan darah akan semakin besar jika makanan tersebut dikonsumsi terus-menerus, terutama saat tubuh tengah beradaptasi dengan ritme pola makan puasa.
2. Kedisiplinan dalam Mengonsumsi Obat
Menjalankan ibadah puasa tidak boleh menjadi alasan bagi penderita hipertensi untuk berhenti minum obat, sehingga disiplin dalam menjalani pengobatan tetap harus dipertahankan.
Supaya tekanan darah tetap terkendali sepanjang hari, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter mengenai penyesuaian waktu konsumsi obat selama berpuasa.
3. Meningkatkan Asupan Buah-buahan
Johanes sangat menganjurkan konsumsi buah-buahan segar sebagai langkah alami untuk membantu menurunkan tekanan darah, mengingat kandungan kalium di dalamnya efektif menetralkan pengaruh natrium.
“Buah-buahan ini banyak mengandung kalium yang dapat menurunkan efek buruk dari natrium terhadap tekanan darah,” jelasnya lebih lanjut.
Penyajian buah dapat dilakukan saat sahur atau sesudah melaksanakan salat tarawih dengan porsi sekitar satu kepalan tangan pria dewasa. Namun, Johanes memberi catatan agar buah tidak diolah menjadi jus karena proses tersebut dapat menghilangkan serat dan meningkatkan kadar gula.
“Padahal seratnya dibuang-buang. Serat itu penting untuk membuat kita merasa cepat kenyang dan juga penting untuk membantu kita lancar buang air besar,” ungkapnya mengenai pentingnya tekstur buah asli.
Melalui perhatian ekstra terhadap pola makan, pengidap hipertensi sejatinya dapat berpuasa dengan aman dan tenang. Menjauhi makanan tinggi garam, rutin minum obat, serta mencukupi kebutuhan buah segar adalah langkah protektif agar tekanan darah tidak melonjak tajam selama Ramadhan.
Pada akhirnya, pengaturan asupan yang tepat tidak sekadar menjaga angka tekanan darah tetap normal, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat dan teratur di masa mendatang.(*/cnni)


