Jakarta, SeputarSumut — Kedatangan musim kemarau yang ditandai dengan suhu udara tinggi pada siang hari mengharuskan setiap individu untuk lebih memperhatikan kecukupan cairan tubuh. Menjaga hidrasi merupakan langkah krusial agar kesehatan tetap prima, mengingat cuaca panas ekstrem dapat memicu berbagai gangguan fisik maupun emosional yang merugikan.
Peningkatan suhu tubuh secara alami akan terjadi apabila seseorang terpapar panas dalam durasi yang cukup lama. Sebagai mekanisme pendinginan mandiri, tubuh akan memproduksi keringat, namun jika kondisi ini tidak diimbangi dengan asupan cairan, risiko dehidrasi hingga heatstroke dapat mengancam dengan gejala berupa pusing, kulit memerah, mual, jantung berdebar, hingga luka bakar pada kulit.
Pernik Ragam: Tips Tetap Terhidrasi dan Frekuensi Minum Air Putih yang Tepat Saat Cuaca Panas Musim Kemarau
Dampak dari cuaca panas ternyata tidak hanya menyasar kesehatan fisik saja, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. Paparan suhu ekstrem dilaporkan dapat memicu munculnya perasaan stres, kemarahan yang mudah tersulut, serta menurunnya tingkat konsentrasi seseorang dalam beraktivitas.
Terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik menurut berbagai sumber. Langkah pertama yang paling utama adalah memastikan pemenuhan asupan air putih secara rutin dan teratur tanpa harus menunggu rasa haus muncul, sebagaimana direkomendasikan oleh NSW Health. Sebaliknya, minuman yang mengandung alkohol atau berkadar gula tinggi sebaiknya dihindari karena memiliki sifat diuretik yang justru mempercepat pembuangan cairan melalui urine.
Perlindungan dari sisi luar juga tidak kalah penting, yakni dengan rutin mengaplikasikan tabir surya atau sunscreen pada kulit. Penggunaan produk pelindung dengan kadar SPF minimal 30 sangat disarankan untuk menangkal efek buruk sinar UV yang dapat memicu penuaan dini serta kulit terbakar. Idealnya, tabir surya dioleskan kembali setiap dua jam sekali, terutama bagi mereka yang aktif berkegiatan di bawah sinar matahari langsung.
Selain asupan dan perawatan kulit, pemilihan busana juga memengaruhi tingkat hidrasi tubuh. Merujuk pada anjuran Healthline, masyarakat disarankan memakai pakaian yang longgar dengan material kain yang bersifat menyejukkan seperti katun atau linen. Penggunaan pakaian berwarna gelap perlu dihindari karena karakteristik warnanya yang lebih banyak menyerap panas matahari.
Pengaturan pola makan juga menjadi pendukung utama dalam menjaga kadar air di dalam tubuh. Mengonsumsi sayuran serta buah-buahan yang kaya kandungan air seperti tomat, stroberi, dan semangka sangat dianjurkan. Di samping itu, asupan tambahan berupa air kelapa dan sup juga efektif untuk meningkatkan cadangan cairan tubuh selama musim panas.
Terkait dengan frekuensi minum air yang ideal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan panduan khusus untuk menghadapi cuaca panas. Masyarakat disarankan untuk mengonsumsi air putih sebanyak 2 hingga 3 liter yang dibagi sepanjang hari. Secara teknis, sangat dianjurkan untuk meminum satu gelas air putih setiap satu jam sekali, terlepas dari apakah seseorang sedang merasa haus atau tidak.
Demikian ulasan mengenai tips menjaga hidrasi tubuh di tengah kondisi cuaca panas. Dengan mengikuti panduan frekuensi minum dan langkah-langkah pencegahan tersebut, diharapkan kesehatan tubuh tetap terjaga dan terhindar dari risiko heatstroke selama menjalani aktivitas di musim kemarau.(*/cnni)


