Jakarta, SeputarSumut — Rentetan aktivitas seismik terus membayangi wilayah Flores Timur Nusa Tenggara Timur setelah gempa berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang kawasan tersebut. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG setidaknya telah terjadi 74 kali gempa susulan yang melanda wilayah Adonara dan sekitarnya.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama dalam pernyataan tertulisnya pada Jumat 10 April 2026 mengungkapkan bahwa pemantauan hingga Kamis malam menunjukkan intensitas kegempaan masih tinggi. Ia mengonfirmasi bahwa selain puluhan gempa susulan dilaporkan juga terjadi kerusakan bangunan yang cukup signifikan di wilayah Kecamatan Adonara Timur.
Lintas Nasional: Update Terbaru Gempa Flores Timur Puluhan Guncangan Susulan Picu Kerusakan dan Trauma Warga di Adonara
Data terbaru dari BMKG turut menunjukkan adanya guncangan tambahan dengan kekuatan magnitudo yang lebih kecil pada Kamis malam. Meskipun kekuatannya menurun frekuensi kemunculan getaran ini tetap menjadi perhatian serius bagi otoritas terkait dan masyarakat setempat.
Mengenai penyebabnya Arief menjelaskan bahwa fenomena ini dikategorikan sebagai gempa bumi dangkal yang diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif. Rentetan getaran ini merupakan satu kesatuan rangkaian pasca terjadinya gempa utama yang mengguncang beberapa hari sebelumnya.
Secara teknis pusat gempa bumi tersebut berada pada titik koordinat 8.45 derajat Lintang Selatan dan 123.18 derajat Bujur Timur. Lokasi episenter berada di daratan dengan jarak sekitar 28 kilometer ke arah Tenggara Larantuka NTT pada kedalaman yang sangat dangkal yakni hanya 3 kilometer dari permukaan tanah.
Rasa trauma yang mendalam kini menghinggapi masyarakat karena getaran susulan yang masih terus dirasakan hingga saat ini. Kondisi psikologis yang terganggu membuat mayoritas warga lebih memilih untuk tetap berada di luar bangunan guna menghindari risiko tertimpa reruntuhan.
Situasi di lapangan tersebut dikonfirmasi kebenarannya oleh Maria Goretty Nemo selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur. Ia memantau langsung bagaimana warga berupaya menyelamatkan diri di tengah ketidakpastian kondisi alam yang sedang terjadi.
Menurut penuturan Maria banyak warga yang melakukan proses pengungsian secara mandiri dengan mendatangi rumah kerabat yang dianggap lebih aman. Namun tidak sedikit pula penduduk yang memilih bertahan di lapangan terbuka karena kekhawatiran yang sangat besar akan munculnya gempa lanjutan yang lebih kuat.
Mereka sementara waktu mengungsi secara swadaya ke tempat yang tidak terdampak kerusakan namun banyak juga yang memutuskan menetap di luar ruangan. Maria menambahkan bahwa guncangan kecil masih terus berulang hingga Kamis malam sehingga warga belum berani kembali ke dalam rumah mereka masing masing.
Di tengah situasi darurat ini pihak kepolisian tidak tinggal diam dan mulai fokus pada program pemulihan kesehatan mental warga khususnya bagi kelompok anak anak. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pelayanan kemanusiaan pasca bencana di wilayah terdampak.
Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra menyatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan personel Polwan untuk terjun langsung memberikan pendampingan psikologis. Kehadiran petugas wanita ini diharapkan mampu memberikan rasa nyaman bagi warga yang sedang mengalami tekanan mental akibat bencana.
Sebanyak empat anggota Polwan telah diberangkatkan menuju Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya untuk melaksanakan tugas trauma healing. Kedua desa tersebut dipilih menjadi prioritas karena tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerusakan bangunan yang paling parah akibat guncangan gempa.
Adhitya menegaskan bahwa kelompok anak anak merupakan pihak yang paling berisiko mengalami trauma berkepanjangan setelah terjadinya bencana alam. Oleh sebab itu pengerahan tim Polwan ke lokasi pengungsian bertujuan agar anak anak di sana bisa merasa lebih tenang terlindungi dan aman dari bayang bayang ketakutan.
Peristiwa gempa awal dengan kekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pada Rabu 8 April 2026 malam memang telah mengakibatkan dampak kerusakan yang luas. Selain menyasar hunian warga guncangan tersebut juga merusak berbagai sarana publik mulai dari gedung sekolah hingga bangunan rumah ibadah.
Informasi sementara yang dihimpun oleh BPBD Flores Timur menunjukkan angka kerugian fisik mencapai 215 rumah yang mengalami kerusakan serta delapan unit fasilitas umum yang terdampak. Sementara itu angka warga yang kini terpaksa menempati posko pengungsian telah menembus 1.100 jiwa.(*/cnni)


