Jakarta, SeputarSumut – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI secara resmi menyatakan bahwa pemberian vaksin guna menangkal Influenza A H3N2 subclade K, atau yang populer dengan sebutan ‘super flu’, hingga saat ini belum perlu dilakukan secara masif kepada masyarakat luas. Langkah utama dalam memitigasi penyebaran virus tersebut menurut penilaian Pemerintah masih bertumpu pada penguatan sistem imunitas tubuh masing-masing individu.
Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan di Jakarta Timur pada Rabu (7/1) sebagaimana dikutip dari detikhealth, bahwa status vaksinasi tersebut hanya bersifat pilihan. “Vaksin itu boleh-boleh saja, tapi sifatnya opsional. Jadi enggak wajib, boleh untuk kelompok rentan lansia, anak-anak, tenaga kesehatan,” tutur Aji memberikan keterangan.
Pernik Ragam: Vaksinasi Super Flu Belum Perlu Secara Massal
Urgensi untuk melaksanakan program vaksinasi berskala nasional dinilai belum terlihat dalam situasi yang berkembang sekarang ini. Alih-alih mewajibkan vaksin, pihak kementerian lebih menitikberatkan pada pentingnya pemeliharaan daya tahan tubuh masyarakat agar tetap memiliki perlindungan alami terhadap risiko infeksi.
“Menurut kami, pertahanan terbaik adalah imunitas tubuh yang harus diperkuat. Jadi anak-anak atau siapapun itu, dewasa, lansia, perkuatlah pertahanan tubuh dengan imunitas tubuh yang baik. Makan bergizi dan istirahat cukup,” kata Aji lebih lanjut mengenai strategi pencegahan mandiri.
Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap kemunculan gejala flu tetap harus menjadi perhatian masyarakat bagi Kemenkes. Bagi warga yang mulai merasakan keluhan seperti pilek, batuk, atau sering bersin, sangat dianjurkan untuk segera membatasi interaksi sosial demi memutus rantai penularan di lingkungan sekitar.
“Stay dulu di rumah, pakai masker, terapkan etiket batuk bersin segala macam. Kalau sudah berat sakitnya, lebih dari 2-3 hari, segera saja ke dokter atau fasilitas kesehatan,” tegasnya sebagai langkah antisipasi jika kondisi kesehatan memburuk.
Di sisi lain, Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan RI turut bersuara agar publik tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap penyebaran subclade K ini. Menurut Menkes, karakteristik virus ini memang memiliki kecepatan penularan yang tinggi, namun dampak keparahan medis yang ditimbulkannya tergolong cukup rendah.
“Dia penularannya cepat, tapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin. Di Indonesia kita juga sudah identifikasi, terakhir jumlahnya puluhan. Enggak parah, sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa,” ungkap Budi yang menegaskan bahwa penanganan medis standar masih sangat efektif.
Budi Gunadi Sadikin juga menekankan bahwa kondisi kesehatan saat ini sangat berbeda dan tidak bisa disetarakan dengan krisis pandemi COVID-19 beberapa tahun silam. “Enggak usah panik, karena sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid-19 yang dulu-dulu,” tutupnya dalam sebuah pernyataan penegas.(*/cnni)


