Medan, SeputarSumut – Ribuan warga etnis Tionghoa di Kota Medan, Sumatra Utara, berkumpul di Vihara Gunung Timur untuk merayakan Hungry Ghost Festival pada Sabtu (6/9/2025). Perayaan yang dikenal sebagai Festival Hantu Lapar ini merupakan tradisi kuno yang diadakan setiap bulan ketujuh dalam kalender lunar Tiongkok. Ini adalah momen penting bagi masyarakat Tionghoa untuk menghormati dan “memberi makan” arwah leluhur serta jiwa-jiwa yang tidak memiliki keturunan.
Perayaan di Vihara Gunung Timur, yang konon merupakan yang terbesar di Sumatra Utara, menarik perhatian tidak hanya dari komunitas setempat, tetapi juga dari berbagai kalangan yang ingin menyaksikan tradisi unik ini.
Info Medan: Vihara Gunung Timur Medan Gelar Hungry Ghost Festival, Tradisi Sakral untuk Leluhur
Tradisi Leluhur yang Terjaga Sejak 1965
Menurut Edy Salim, salah satu pengurus Vihara Gunung Timur, tradisi ini telah berlangsung sejak vihara tersebut didirikan pada tahun 1965. Festival ini didasarkan pada kepercayaan masyarakat Tionghoa bahwa pintu alam baka akan terbuka selama bulan ketujuh kalender lunar, memungkinkan arwah-arwah untuk kembali ke dunia manusia.
Inti dari perayaan ini adalah persembahan yang berlimpah, yang diberikan untuk memastikan arwah-arwah tersebut merasa dihargai dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Salah satu persembahan paling khas adalah pembakaran kertas khusus yang disimbolkan sebagai uang, yang dikenal sebagai “uang arwah” atau joss paper. Ribuan lembar kertas ini dibakar dalam tungku besar, yang dipercaya akan digunakan oleh para arwah sebagai mata uang spiritual di akhirat.
Persembahan Berlimpah dari Makanan hingga Kapal-kapalan
Kemegahan Hungry Ghost Festival di Vihara Gunung Timur terlihat dari beragamnya persembahan yang disiapkan. Tidak hanya uang kertas, tetapi juga berbagai macam hidangan lezat dan minuman disediakan. Edy Salim menyebutkan bahwa vihara menyiapkan sekitar 2.000 paket makanan yang dipersembahkan untuk para arwah. Paket ini berisi berbagai jenis makanan, mulai dari camilan, kue, hingga hidangan utama yang disajikan di atas altar.
Selain makanan, persembahan juga dibuat dalam bentuk model tiga dimensi yang unik. Contoh yang paling mencolok adalah persembahan yang menyerupai rumah dan kapal. Model-model ini dibuat sedemikian rupa dari bahan kertas dan bambu, kemudian dibakar sebagai simbol. Rumah-rumahan ini melambangkan hunian bagi arwah yang tidak memiliki tempat tinggal, sementara kapal-kapal melambangkan kendaraan yang akan membawa para arwah kembali ke alam baka dengan aman.
Persembahan yang semakin bervariasi ini mencerminkan dinamika tradisi yang terus beradaptasi dan berkembang, serta menunjukkan betapa pentingnya festival ini bagi komunitas Tionghoa. Peningkatan jumlah pengunjung dan persembahan setiap tahunnya membuktikan bahwa tradisi ini tetap hidup dan relevan, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya di Medan.
Dengan Vihara Gunung Timur yang telah berdiri sejak 1930-an dan menjadi salah satu kuil Tao terbesar di Sumatra, perayaan Hungry Ghost Festival ini juga menjadi bukti nyata bagaimana warisan budaya Tionghoa berakar kuat di kota multikultural seperti Medan.(Siong)


