Medan, SeputarSumut — Tren pertumbuhan yang positif berhasil ditunjukkan oleh performa angkutan barang dengan menggunakan moda transportasi kereta api di area Sumatera Utara. Berdasarkan catatan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara (KAI Divre I SU), jumlah volume pengiriman logistik sepanjang rentang bulan Januari sampai Mei 2026 sukses menembus angka 318.482 ton.
Realisasi tersebut memperlihatkan adanya pertumbuhan sebesar 2 persen atau setara dengan kenaikan sebanyak 6.312 ton bila disandingkan dengan catatan pada periode yang sama di tahun 2025, yang mana pada saat itu membukukan volume sebesar 312.170 ton.
Berita Ekonomi: Volume Angkutan Barang Kereta Api di Sumatera Utara Tumbuh Positif Capai 318.482 Ton
Pemicu Utama Pertumbuhan Angkutan Barang
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menjelaskan bahwa melonjaknya angka pertumbuhan ini didorong oleh besarnya tingkat permintaan terhadap beberapa jenis komoditas andalan di wilayah setempat.
“Dari lima komoditas angkutan barang yang kami layani di Sumatera Utara, angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Crude Palm Oil (CPO) menjadi dua komoditas yang mengalami peningkatan paling signifikan. Terjadi pertumbuhan sebesar 12 persen untuk angkutan BBM dan 28 persen untuk angkutan CPO,” kata Anwar.
Akselerasi volume pengiriman barang dinilai menunjukkan pergerakan yang kian kuat pada bulan Mei 2026. Sepanjang satu bulan penuh tersebut, pihak KAI Divre I Sumut tercatat menangani komoditas logistik hingga mencapai 64.127 ton. Capaian ini melonjak tajam sebesar 36 persen jika dibandingkan dengan hasil pada bulan Mei 2025 yang hanya berada di angka 47.060 ton.
“Pada bulan Mei 2026 saja, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komoditi petikemas yang melesat hingga 109 persen, disusul oleh komoditas CPO yang meningkat 31 persen dibandingkan dengan performa Mei tahun lalu,” rincinya.
Korelasi dengan Kebijakan Pemerintah Daerah
Menurut penilaian Anwar, arah pergerakan positif dari ekspansi angkutan barang lewat jalur rel ini sudah selaras dengan fokus kebijakan pembangunan dari pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Secara spesifik, hal ini berkaitan erat dengan Program Prioritas 13 yang termuat di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara 2025-2029.
“Program tersebut memang diarahkan untuk memperkuat sistem logistik dan transportasi sebagai pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing daerah,” jelasnya.
Anwar memaparkan lebih lanjut bahwa aspek efisiensi dari pos biaya transportasi serta tingkat kelancaran arus distribusi logistik memiliki andil yang sangat vital dalam menjaga stabilitas harga di tingkat makro. Salah satu implikasi nyatanya berpengaruh secara langsung pada angka Koefisien Variasi Harga Antar Wilayah Tingkat Provinsi. Pada area Sumatera Utara sendiri, nilai koefisien dimaksud memiliki target untuk dapat dikurangi dari posisi 10,1 persen pada tahun 2025 menuju ke level 9,38 persen di tahun 2030 mendatang.
“Kelancaran distribusi logistik bukan urusan industri saja, tetapi manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pelaku usaha bisa lebih efisien, harga barang lebih terjaga, mendorong daya beli masyarakat semakin meningkat, sehingga ekonomi daerah ikut terdongkrak naik,” tutur Anwar.
Langkah Strategis dan Komitmen KAI
Demi mempertahankan konsistensi dari pencapaian tersebut, pihak KAI Divre I Sumatera Utara menyatakan komitmen penuh untuk senantiasa memaksimalkan sektor pelayanan kereta api barang. Berbagai kebijakan strategis yang diaplikasikan mencakup pembenahan sistem pola operasi, peningkatan aspek keandalan pada sarana maupun prasarana, hingga perluasan jaringan kemitraan bersama para pelanggan korporasi serta pihak mitra logistik.
Sederet program kerja tersebut ditargetkan agar alur distribusi barang-barang komoditas dapat berjalan secara lebih terjadwal, konsisten, hemat biaya, serta sanggup menjadi tiang penyangga bagi kekuatan daya saing sektor industri regional di wilayah Sumatera Utara.
“Investasi pada logistik berbasis rel adalah investasi untuk daya saing Indonesia. Semakin besar volume barang yang dapat dilayani melalui kereta api secara efisien, semakin besar pula biaya logistik yang dapat ditekan. Langkah ini krusial untuk memperkuat industri, menjaga daya beli masyarakat, dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.(Siong)

