Jakarta, SeputarSumut — Seluruh warga negara Tiongkok yang saat ini berada di Israel telah menerima peringatan keras untuk segera angkat kaki dari wilayah tersebut. Langkah darurat ini diambil otoritas terkait menyusul kondisi keamanan di Timur Tengah yang kian merosot dan membahayakan keselamatan jiwa.
Instruksi untuk berhenti mempertaruhkan nyawa dan segera melakukan pengungsian atau kembali ke negara asal telah ditegaskan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Israel. Pihak diplomatik mendesak warganya agar memprioritaskan keselamatan dan segera keluar dari wilayah konflik sesegera mungkin.
Dunia Internasional: Warga Tiongkok di Israel Diminta Segera Evakuasi Akibat Eskalasi Konflik
Guna memfasilitasi proses tersebut, misi evakuasi tambahan saat ini tengah diatur melalui jalur darat. Berdasarkan laporan dari kantor berita pemerintah Tiongkok, Xinhua, kedutaan sedang mengoordinasikan keberangkatan warga melalui pintu perbatasan Taba yang menghubungkan Israel dengan Mesir.
Keputusan evakuasi massal ini merespons ancaman serangan udara yang terus meluas dan membahayakan warga sipil. Sebagaimana diberitakan oleh Al Jazeera pada Selasa (24/3), situasi di lapangan menunjukkan risiko yang semakin tidak terkendali bagi penduduk non-kombatan di wilayah konflik.
Pihak kedutaan dalam pernyataan resminya melalui Xinhua menyebutkan bahwa skala dan frekuensi serangan proyektil kini berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. “Lingkup, frekuensi, dan intensitas serangan rudal serta drone terhadap Israel semakin meningkat, menyebabkan meningkatnya korban jiwa dan kerugian harta benda,” ungkap pernyataan tersebut.
Peringatan tersebut juga menyoroti kerentanan warga di lapangan saat terjadi serangan mendadak. Dilaporkan telah terjadi serangkaian insiden di mana warga mengalami luka-luka akibat tidak memiliki cukup waktu untuk menjangkau tempat perlindungan bom saat sirine bahaya berbunyi.
Bagi warga negara Tiongkok yang karena alasan tertentu masih bertahan di Israel, protokol kewaspadaan tingkat tinggi telah diberlakukan. Mereka diwajibkan untuk ekstra hati-hati dalam memantau situasi di sekitar mereka selama masa krisis ini berlangsung.
Titik-titik yang dianggap sebagai target serangan strategis harus dijauhi oleh warga sipil guna meminimalkan risiko. Lokasi-lokasi tersebut mencakup bandara, pelabuhan, kilang minyak, pembangkit listrik, fasilitas infrastruktur vital lainnya, hingga area militer yang sensitif.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Iran meluncurkan serangan rudal langsung ke wilayah Israel pada Selasa (24/3) pagi. Dentuman ledakan hebat dilaporkan terdengar di Yerusalem, yang segera direspons oleh militer Israel dengan mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan ke sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempuran tersebut.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa rentetan rudal terbaru dari Iran diarahkan ke wilayah Israel bagian utara. Saat ini, sistem pertahanan udara mereka dilaporkan terus beroperasi secara aktif untuk mencegat dan menetralisir berbagai ancaman udara yang masuk.
Situasi diprediksi akan terus memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melontarkan ancaman serangan terhadap pembangkit listrik di Israel. Ultimatum ini muncul sebagai reaksi atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menggempur pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tetap menutup Selat Hormuz.(*/cnni)


