Jakarta, SeputarSumut – Lonjakan kasus influenza A (H3N2) varian subclade K kini menjadi sorotan global setelah memicu kenaikan angka penderita yang signifikan di berbagai negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Dikenal dengan sebutan super flu, varian ini dinilai jauh lebih agresif dan memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan virus flu musiman yang biasa ditemukan.
Perubahan karakteristik virus ini disebabkan oleh mutasi genetik pada virus influenza yang sebenarnya sudah lama beredar, menurut penjelasan dr. Agus Dwi Susanto, Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan. Meski dasarnya adalah jenis influenza A (H3N2) musiman, mutasi pada subclade K memberikan sifat yang berbeda dari galur biasanya.
Pernik Ragam: Waspada Super Flu H3N2 Subclade K Mengancam
”Influenza subclade K ini mengalami mutasi sehingga memiliki beberapa sifat yang berbeda dengan influenza musiman pada umumnya,” ungkap dr. Agus sebagaimana dikutip dari detikHealth. Ia menambahkan bahwa kemampuan virus ini untuk bereplikasi atau berkembang biak lebih cepat di saluran pernapasan menjadi alasan utama mengapa penyebarannya begitu masif.
Tingginya beban virus (viral load) di saluran napas bagian atas meningkatkan potensi penularan antarmanusia secara drastis. Selain itu, mutasi ini juga membawa tantangan baru bagi sistem kekebalan tubuh karena sifatnya yang cenderung lebih resisten terhadap vaksin flu yang tersedia saat ini.
Mengenai penamaan “super flu” yang ramai diperbincangkan, dr. Agus mengklarifikasi bahwa istilah tersebut bukanlah klasifikasi medis resmi. Istilah itu muncul di tengah masyarakat untuk menggambarkan kondisi flu yang memiliki gejala lebih parah dan daya sebar yang sangat luas dibandingkan biasanya.
Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan tengah menghadapi tantangan serius akibat peningkatan drastis kasus influenza selama musim dingin. Data dari CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS) menunjukkan angka rawat inap meningkat lebih dari 14 persen hanya dalam waktu satu minggu, dengan varian subclade K sebagai aktor utamanya.
Beberapa negara bagian seperti Colorado, Louisiana, dan New York mencatat lonjakan kasus yang cukup tajam. Bahkan di Manhattan, laporan kasus meroket hingga lebih dari 104 persen dalam periode yang singkat, dipicu oleh mobilitas penduduk yang tinggi serta arus perjalanan internasional.
Terkait gejala, infeksi super flu subclade K pada dasarnya memiliki kemiripan dengan influenza biasa namun dengan intensitas yang jauh lebih berat. Mengutip laporan NewsNation Now, penderita sering kali merasakan demam tinggi, kelelahan ekstrem, nyeri otot yang hebat, batuk berkepanjangan, sakit kepala, hingga sakit tenggorokan.
Pasien dalam beberapa kasus juga mengeluhkan gejala tambahan seperti nyeri dada, sesak napas, gangguan pada sistem pencernaan, serta rasa lemas yang bertahan lebih lama dari biasanya. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kelompok berisiko tinggi seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta yang rentan mengalami komplikasi fatal.(*/cnni)


