Jakarta, SeputarSumut – Intensitas hujan yang sangat tinggi selama kurang lebih lima jam tanpa henti menjadi pemicu utama bencana banjir bandang yang menerjang sejumlah permukiman di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Kondisi cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan luapan air yang membawa material berbahaya seperti batu, tanah, dan kayu langsung menghantam rumah-rumah warga.
Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut), berduka setelah banjir bandang melanda permukiman pada Senin (5/1) dini hari dan mengakibatkan 14 orang dilaporkan meninggal dunia. Kejadian tragis di awal pekan ini memberikan dampak kerusakan yang sangat masif bagi warga setempat.
Lintas Nasional: 14 Orang Meninggal Akibat Banjir di Pulau Siau
Data terbaru mengenai jumlah korban disampaikan oleh Kapendam XIII/Merdeka Kolonel Inf Daniel E.S. Lalawi di Manado. “Sebanyak 25 orang lainnya mengalami luka-luka, serta satu orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian,” ungkap Daniel sebagaimana dikutip dari Antara.
Dampak sosial dari bencana ini memaksa 35 kepala keluarga dengan total 108 jiwa untuk meninggalkan tempat tinggal mereka. Saat ini, para warga tersebut harus bertahan di lokasi-lokasi pengungsian yang telah disediakan oleh pemerintah daerah setempat.
Kerugian materiil yang tercatat sangat signifikan, di mana terdapat 64 unit rumah warga yang mengalami kerusakan, baik kategori berat maupun ringan. Bahkan, arus banjir yang sangat kuat dilaporkan telah menyeret dan menghilangkan 21 unit rumah lainnya tanpa sisa.
Mobilitas di lokasi bencana saat ini masih terhambat akibat akses jalan utama yang tertutup material longsoran berupa tanah, batu, dan kayu. Kendala infrastruktur ini menyebabkan kendaraan roda dua maupun roda empat belum dapat melintasi jalur tersebut untuk sementara waktu.
Sebagai langkah cepat, Kodam XIII/Merdeka telah mengerahkan dua peleton personel guna mempercepat penanganan di lapangan. Rencananya, pergeseran pasukan akan dilakukan melalui Dermaga PSDP Bitung dengan menumpang Kapal Feri Lokon Banua milik Pemerintah Daerah Sitaro.
Instruksi langsung juga telah diberikan kepada jajaran di bawahnya untuk segera bertindak. “Kodam XIII/Merdeka melalui Dandim 1301/Sangihe telah memerintahkan Danramil 1301-02/Siau beserta personel untuk terjun langsung ke lokasi terdampak guna membantu proses pencarian, evakuasi korban, serta penanganan darurat bersama unsur Polri dan pemerintah daerah,” tambah Daniel.
Respons cepat juga datang dari Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, yang menginstruksikan jajarannya untuk segera mendistribusikan bantuan mendesak. Alat berat, kebutuhan bayi dan lansia, pakaian, kasur, hingga logistik makanan menjadi prioritas utama untuk segera dikirimkan kepada warga di Pulau Siau.
Yulius menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mendampingi para korban dalam masa sulit ini. “Pemprov Sulut akan hadir dan memberikan dukungan penuh bagi masyarakat terdampak, baik dalam penanganan darurat maupun pemulihan pascabencana,” jelas sang Gubernur.
Kolaborasi di lapangan saat ini terus berjalan secara intensif antara Pemerintah Kabupaten Sitaro, TNI, Polri, serta partisipasi aktif dari masyarakat sekitar. Semua pihak bahu-membahu melakukan upaya penanganan darurat di tengah keterbatasan kondisi pascabencana.
Cakupan wilayah yang terdampak bencana ini cukup luas di Kecamatan Siau Timur, yang menyisakan kerusakan material serta duka mendalam akibat jatuhnya korban jiwa dan orang hilang. Aliran air bercampur material diketahui menyapu apa pun yang berada di jalurnya.
Adapun titik-titik wilayah yang mengalami dampak cukup parah meliputi Kelurahan Paniki, Kelurahan Paseng, Kelurahan Bahu, Kampung Bumbiha, Kampung Peling, Kampung Laghaeng, Kampung Batusenggo, Kampung Beong, dan Kampung Salili.
Untuk mengoptimalkan proses pemulihan, Pemerintah Kabupaten Sitaro telah mengambil langkah hukum dengan menetapkan status tanggap darurat bencana. Status ini akan diberlakukan selama 14 hari ke depan demi mempercepat seluruh rangkaian penanganan di lokasi terdampak.(*/cnni)


