Jakarta, SeputarSumut — Laporan mengenai dampak kerusakan di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe pasca diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 di area utara Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sejauh ini dinyatakan belum diterima oleh pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf H Tamengkel.
“Tidak (ada laporan),” kata Adolf kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/6) malam.
Lintas Nasional: Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sangihe BPBD Sebut Belum Ada Laporan Kerusakan dan Tidak Berpotensi Tsunami
Pernyataan senada dikeluarkan oleh Kepala BPBD Sangihe, Wandu Labesi, yang mengonfirmasi bahwa peristiwa alam tersebut tidak memicu kemunculan gelombang tsunami. Dirinya meminta warga untuk menjauh dari bangunan-bangunan yang kondisinya sudah mengalami keretakan atau berstruktur rapuh demi meminimalisir kemungkinan jatuhnya korban.
“Hindari bangunan yang sudah retak atau tidak kokoh untuk menghindari timbulnya korban jiwa,” kata Labesi dalam keterangannya.
Selain itu, Labesi turut menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat setempat agar senantiasa menjaga kesiapsiagaan guna mengantisipasi apabila terjadi guncangan gempa susulan, serta tidak menelan mentah-mentah kabar atau informasi yang menyesatkan.
“Kami imbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada,” ujarnya.
Berdasarkan data teknis, peristiwa gempa bumi tersebut bergulir pada Jumat (26/6) kira-kira pukul 19.34 WITA. Titik pusat guncangan berada di area laut dengan jarak 200 kilometer arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, serta memiliki tingkat kedalaman sedalam 31 kilometer.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng laut Filipina. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip),” jelas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam keterangannya.
Merujuk pada data estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, efek getaran dari gempa bumi ini terdeteksi berada pada skala intensitas V MMI di wilayah Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe. Selanjutnya, skala intensitas IV MMI dirasakan di kawasan Kendahe, Kepulauan Sangihe, serta Miangas, Kepulauan Talaud. Sementara untuk wilayah Kota Tahuna, Kota Melonguane, dan Kota Ondong merasakan guncangan dengan skala intensitas III-IV MMI. Di lokasi lainnya, getaran dirasakan dengan skala intensitas III MMI di Kota Manado serta skala intensitas II-III MMI di Kota Airmadidi.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ungkapnya.(*/cnni)


