Medan, SeputarSumut — Memasuki hari kedua perayaan Idulfitri, geliat transaksi jual beli untuk komoditas ayam potong dan daging sapi di Pasar Simpang Limun Medan terpantau mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi pasar yang masih sepi dari pengunjung membuat aktivitas perdagangan di lokasi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda kembali normal seperti hari biasa.
Murni, salah satu pedagang ayam potong di pasar tersebut, membeberkan bahwa harga ayam saat ini dibanderol pada kisaran Rp42 ribu per kilogram untuk kondisi bersih dan Rp40 ribu per kilogram jika menyertakan ceker. Nominal ini sejatinya telah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan masa sebelum bulan puasa yang sempat menyentuh angka Rp45 ribu per kilogram.
Berita Ekonomi: Aktivitas Perdagangan di Pasar Simpang Limun Medan Lesu pada H-2 Lebaran
Potensi kenaikan harga di masa mendatang tetap diwaspadai oleh para pedagang karena adanya faktor eksternal tertentu. “Nanti jika masuk program MBG (makan bergizi gratis) lagi, harganya diprediksi akan naik kembali,” ungkap Murni saat memberikan keterangan pada Minggu (22/3/2026).
Besarnya pengaruh program MBG terhadap serapan stok ayam potong diakuinya menjadi salah satu pemicu dinamika harga karena banyaknya permintaan pasokan yang masuk kepadanya. Meski stok ayam saat ini dilaporkan masih tersedia, Murni menyebut jumlah persediaannya tidak sebanyak hari-hari biasanya.
Suasana libur panjang Lebaran ditengarai menjadi penyebab utama sepinya kondisi pasar yang berujung pada anjloknya angka penjualan harian. Menurut Murni, minimnya pembeli yang datang ke pasar terjadi karena masyarakat masih dalam suasana merayakan hari kemenangan, di mana ia sendiri baru mulai berjualan kembali setelah menutup lapaknya pada hari pertama Idulfitri.
Senada dengan kondisi di lapak unggas, Ati yang merupakan penjual daging sapi di Pasar Simpang Limun juga merasakan dampak dari sepinya pembeli. Ia menginformasikan bahwa harga daging sapi saat ini bertahan di angka Rp150 ribu per kilogram, mengalami kenaikan dari harga sebelum Lebaran yang berada di level Rp140 ribu per kilogram.
Rendahnya volume pembelian diakui Ati sebagai konsekuensi dari perilaku konsumen yang sudah melakukan penyetokan bahan pangan sejak jauh hari. “Para pembeli rata-rata hanya mengambil dalam jumlah sedikit karena mereka sudah belanja daging dalam skala besar sebelum Lebaran tiba,” jelas Ati yang juga baru kembali berdagang hari ini setelah libur merayakan Idulfitri.(*/mst)


