Jakarta, SeputarSumut – Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, dilaporkan kembali menunjukkan peningkatan aktivitas pada hari Senin. Gunung berapi ini mengembuskan asap putih tebal dengan ketinggian yang signifikan, berkisar antara 500 meter hingga 1.000 meter di atas puncak kawah.
Mukdas Sofian, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, mengonfirmasi peningkatan aktivitas tersebut dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Senin. Ia menjelaskan bahwa secara visual, gunung api terlihat jelas meskipun kadang tertutup Kabut 0-II. Teramati asap dari kawah utama memiliki intensitas sedang dan berwarna putih, membumbung tinggi hingga 1.000 meter dari puncak.
Lintas Nasional: Aktivitas Semeru: Asap 1.000 M, Status Awas
Pada saat pengamatan, cuaca di sekitar gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dilaporkan berawan hingga mendung. Angin tercatat bertiup lemah ke arah timur, dengan suhu udara yang relatif sejuk, berkisar antara 21^\circ \text{C} hingga 22^\circ \text{C}.
Dalam periode enam jam terakhir, yaitu pada Senin pukul 00.00-06.00 WIB, aktivitas kegempaan Gunung Semeru tercatat cukup tinggi. Terjadi 44 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm dan durasi gempa 64-147 detik, menurut laporan Petugas Pos Pengamatan.
Selain gempa letusan, gunung Semeru juga mencatat aktivitas kegempaan lainnya. Tercatat adanya satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 8 mm dan durasi 52 detik. Selanjutnya, teramati pula tiga kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 3-30 mm, S-P 39 detik, dan durasi gempa 51-284 detik, tambah Mukdas Sofian.
Mengingat kondisi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Gunung Semeru di Level IV atau Awas. Status ini memicu sejumlah rekomendasi penting, salah satunya adalah larangan masyarakat melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 20 kilometer dari puncak kawah.
Di luar jarak aman utama tersebut, masyarakat juga diimbau untuk menjauhi sempadan sungai. Batas minimal yang diminta adalah 500 meter dari sempadan sungai karena adanya potensi besar terjadinya awan panas dan lahar.
Lebih lanjut, PVMBG meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius delapan kilometer dari kawah puncak Gunung Semeru. Kewaspadaan ini sangat penting mengingat adanya potensi bahaya lontaran batu pijar yang bisa mencapai area tersebut, ujar petugas.
Masyarakat juga diwajibkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terjadinya aliran lava, awan panas guguran, dan lahar. Bahaya ini berisiko terjadi di sepanjang sungai yang berhulu di puncak Semeru, khususnya di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta seluruh sungai-sungai kecil yang menjadi anak alirannya.
Erupsi tercatat kembali terjadi pada Senin, 24 November 2025, pukul 03.04 WIB, berdasarkan catatan yang terekam oleh petugas. Meskipun visual letusan tidak dapat teramati, erupsi ini berhasil terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi selama 142 detik.(*/cnni)


