Medan, SeputarSumut — Fungsi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dimaknai kembali secara lebih mendalam agar fungsinya tidak sekadar menjadi ruangan alternatif untuk tempat istirahat bagi peserta didik yang mengalami kelelahan atau pingsan. Keberadaan wadah medis di lingkungan pendidikan tersebut wajib diposisikan sebagai fondasi utama dalam mengupayakan iklim belajar yang higienis demi menyokong terciptanya generasi emas Indonesia 2045.
Pernyataan fundamental tersebut dikemukakan secara gamblang oleh dr Sofyan Tan selaku Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan. Gagasan ini dilontarkannya saat bertindak sebagai pembicara utama (keynote speaker) dalam agenda Workshop Pendidikan yang mengusung tajuk “Revitalisasi UKS sebagai Pilar Utama Mewujudkan Sekolah Sehat Menuju Indonesia Emas 2045”, sebuah acara kolaboratif antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dengan Komisi X DPR RI bertempat di Hotel Le Polonia, Medan, pada Sabtu (16/5).
Sorot Politik: Anggota Komisi X DPR Sofyan Tan Tegaskan Revitalisasi UKS Mutlak demi Wujudkan Sekolah Sehat
“UKS sering diartikan sebagai tempat anak kalau pingsan atau kelelahan untuk beristirahat. Padahal kalau namanya Unit Kesehatan Sekolah, maka harus punya peran penting memastikan lingkungan sekolah sehat,” ujar Sofyan Tan saat menjadi keynote speaker dalam Workshop Pendidikan bertema “Revitalisasi UKS sebagai Pilar Utama Mewujudkan Sekolah Sehat Menuju Indonesia Emas 2045” yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI bekerja sama dengan Komisi X DPR RI di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (16/5).
Dalam pandangannya, keberadaan UKS sudah sepatutnya memicu perubahan positif terhadap aspek kebersihan sekolah secara menyeluruh, yang di antaranya diwujudkan melalui pengadaan fasilitas sanitasi atau toilet yang memenuhi standar kelayakan, ketersediaan instalasi cuci tangan (wastafel), serta penanaman pemahaman pola hidup sehat terhadap murid. Ia memberikan gambaran konkret bahwa tindakan kedisplinan yang sederhana berupa pengecekan berkala terhadap kebersihan kuku para siswa oleh tenaga pendidik terbukti memberikan stimulasi kuat dalam membentuk budaya bersih di area sekolah.
Sofyan Tan menambahkan, rupa-rupa gangguan kesehatan yang kerap menjangkiti kalangan pelajar pada umumnya mempunyai relasi kuat dengan persoalan sanitasi pribadi dan penyebaran virus, misalnya infeksi saluran pernapasan, gejala diare, hingga paparan flu Singapura. Munculnya berbagai jenis infeksi tersebut menurutnya harus diantisipasi lewat langkah preventif berupa sosialisasi dan pembiasaan diri untuk hidup higienis sedari kecil.
“Kita tahu penyakit anak sekolah banyak berkaitan dengan kebersihan. Karena itu kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri sangat penting,” kata legislator dari Dapil Sumut 1 itu.
Fakta di lapangan juga tidak luput dari perhatian Sofyan Tan, di mana dirinya menyoroti fakta bahwa masih banyak instansi sekolah yang didapati belum melengkapi lingkungannya dengan fasilitas wastafel beserta pasokan air bersih yang mengalir dan ketersediaan sabun, terutama pasca-bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Baginya, kebiasaan membersihkan jemari dengan wadah air kobokan sudah tidak relevan lagi diterapkan karena dinilai gagal memproteksi higienitas siswa, bahkan justru berpotensi memicu rantai penularan penyakit menular.
“Harusnya sekolah sudah menyediakan wastafel agar siswa bisa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum makan. Ini penting karena sekarang siswa setiap hari makan di sekolah,” ujarnya.
Pada bagian lain, legislator tersebut melempar seruan tentang urgensi pemantapan kerja sama taktis antara manajemen sekolah dengan pihak puskesmas setempat dalam hal mendiseminasikan edukasi medis kepada peserta didik. Puskesmas dinilai memegang peranan krusial sebagai garda terdepan guna mengalirkan bimbingan serta penyuluhan kesehatan ke lingkungan sekolah.
“Beberapa penyakit utama seperti diare dan cacingan bisa dicegah lewat strategi sekolah yang sederhana, salah satunya menjaga kebersihan tangan,” katanya.
Langkah mengoptimalkan kembali fungsi UKS disebut Sofyan Tan sebagai instrumen krusial dalam menyongsong blueprint pembentukan generasi penerus bangsa pada 2045 yang memiliki raga sehat sekaligus pemikiran yang cerdas. Saat ini, jajaran eksekutif atau pemerintah juga sedang mencurahkan fokus yang tinggi terhadap pemenuhan gizi dan taraf kesehatan anak-anak sekolah melalui implementasi program MBG.
Apresiasi terhadap atensi dan dorongan yang disuarakan oleh Sofyan Tan dalam memperkuat ekosistem sekolah sehat datang dari pihak birokrasi, yang dalam hal ini diwakili oleh Widyaprada Ahli Utama Direktorat SMP Kemendikdasmen, Dr Poppy Dewi Puspitawati, MA. Ia berpendapat bahwa kolaborasi aktif dan harmonis antara lini pemerintah pusat, legislatif DPR RI, bersama dengan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menghadirkan sistem edukasi yang bermutu dan sehat.
“UKS adalah pilar utama sekolah sehat. Revitalisasi UKS merupakan kerja besar yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak,” ujar Poppy.
Sebagai informasi, kegiatan workshop edukasi ini turut dihadiri secara langsung oleh sejumlah tokoh penting lainnya seperti Kasi Sarpras dan Kelembagaan Dinas Pendidikan Kota Medan Drs Abdul Gani, M.Pd, serta jajaran narasumber pendukung yang meliputi Catur Budi Santosa, SE, M.Ak, Sahara, SS, M.Pd, Dr Hj Lenni Estiani, dengan dipandu oleh Adri Hermawan, M.Psi selaku moderator jalannya acara.(Siong)

