Medan, SeputarSumut – Upaya untuk memulihkan kualitas buah sawit pascabanjir memerlukan perhatian khusus dari para petani. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menekankan perlunya pemupukan dan perawatan yang lebih intensif guna meminimalisir penurunan kualitas rendemen. “Jika dibiarkan, dampaknya bisa berkepanjangan hingga satu tahun ke depan terhadap penurunan kualitas buah sawit,” ujar Gunawan, Kamis (18/12/2024).
Gunawan juga memperingatkan adanya ancaman penurunan rendemen Crude Palm Oil (CPO) dalam jangka panjang akibat bencana ini. Ia memproyeksikan rasio CPO dari Tandan Buah Segar (TBS) berpotensi anjlok di bawah 15% setelah banjir surut. “Kalau sebelum bencana rendemen bisa dipertahankan di kisaran 19%, untuk lahan sawit yang terdampak seperti di Langkat dan Aceh Tamiang berpeluang turun di bawah 15% nantinya,” jelasnya.
Berita Ekonomi: Banjir Sumut Paksa Produksi CPO Turun Tajam
Terkait harga pasar, ia mencatat adanya kestabilan meskipun sempat terjadi fluktuasi di daerah tertentu. Walaupun harga minyak goreng sempat terpantau naik sekitar Rp200 hingga Rp2.000 per kg di wilayah Sibolga, Gunawan menilai tekanan harga kini mulai terhenti. Hal ini disebabkan oleh turunnya harga minyak nabati pesaing seperti kedelai, serta melemahnya permintaan ekspor produk turunan dibandingkan tahun lalu.
Di sisi operasional, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) juga mengalami tekanan volume olahan yang signifikan. Menurut Gunawan, PKS berkapasitas 45 ton yang biasanya mengolah lebih dari 12 ribu ton TBS per bulan, kini diproyeksikan hanya mampu mengolah di bawah 10 ribu ton, bahkan ada yang hanya mencapai 7.500 ton. Namun, ia optimis hal ini tidak akan memberikan tekanan berlebih pada harga minyak goreng di pasaran.
Kondisi sulit ini juga berimbas pada rantai pasok industri pengolahan sawit. Penurunan tajam dalam pengolahan TBS di tingkat pabrik diprediksi akan menyulitkan perusahaan refinery dalam mendapatkan bahan baku. Gunawan menyebut bahwa tren penurunan produksi CPO sebenarnya sudah terjadi sejak November, namun bencana banjir memperburuk keadaan hingga membuat banyak perusahaan pengolahan terpuruk.
Penurunan produktivitas CPO yang paling parah diprediksi mencapai angka 40% secara bulanan pada Desember ini. Proyeksi ini menyasar PKS yang lahan sawitnya dominan berada di zona banjir. Sejumlah perusahaan bahkan telah mengambil langkah ekstrem dengan menutup operasional pabrik selama sekitar dua pekan pascabencana besar yang terjadi pada akhir November lalu.
Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara ini memang telah melumpuhkan banyak sektor perkebunan. Curah hujan yang tinggi memicu penurunan produksi minyak kelapa sawit secara drastis, terutama di wilayah Aceh Tamiang, Langkat, dan Tapanuli. Di wilayah Langkat dan Aceh Tamiang, bahkan ditemukan banyak PKS yang memilih untuk menghentikan operasionalnya secara total selama masa bencana berlangsung.(Siong)


