Medan, SeputarSumut – Bencana alam yang melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatera, termasuk Sumatera Utara dan Aceh, telah meninggalkan duka mendalam dan dampak signifikan terhadap tatanan ekonomi masyarakat. Kerugian tidak hanya terjadi pada sisi materi dan korban jiwa, tetapi juga terlihat jelas dari terganggunya aktivitas ekonomi regional.
Salah satu dampaknya yang paling kentara adalah penurunan omset penjualan di Pasar Induk Lau Chi, Tuntungan, Medan.
Berita Ekonomi: Dampak Bencana, Omset Pasar Induk Medan Turun Rp610 Juta/Hari
Pasar Induk Lau Chi merupakan sentra utama penjualan bahan kebutuhan pangan hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, kol, kentang, serta sejumlah sayur-sayuran lainnya. Pasar ini menjadi rujukan utama bagi sejumlah wilayah, seperti Langsa, Kuala Simpang, Besitang, Tanjung Pura, dan Pangkalan Berandan, dalam memenuhi kebutuhan komoditas pangan mereka.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, pada Jum’at (12/12/2025), mengungkapkan analisisnya terkait potensi kerugian omset di pasar induk tersebut akibat minimnya aktivitas belanja dari daerah terdampak.
”Dari hasil pemetaan yang saya lakukan, Kota Langsa setidaknya membutuhkan 3 sampai 5 ton kentang per hari dari Tuntungan. Disusul kemudian cabai merah sekitar 3 sampai 4 ton per hari, Kol 700 Kg hingga 2 ton, bawang merah 300 Kg hingga 600 Kg, wortel 500 hingga 1 ton per hari, Tomat 400 Kg hingga 1 Ton per hari, serta sejumlah kebutuhan pangan hortikultura lainnya,” jelas Gunawan Benjamin.
Gunawan Benjamin memperkirakan bahwa kontribusi belanja harian dari Kota Langsa saja mencapai paling sedikit sekitar Rp356 juta per hari. Angka ini belum termasuk komoditas seperti bawang putih, terong, labu, dan kebutuhan hortikultura lainnya.
Jika ditotal dari ketiga wilayah utama pembeli, yakni Langsa, Kuala Simpang, dan Besitang, Pasar Induk Lau Chi berpotensi mengalami kerugian dari sisi penurunan omset paling sedikit Rp610 juta per hari. Potensi kerugian harian bahkan sempat mencapai Rp1 Miliar per hari pada sepekan pertama bencana, saat Kota Tanjung Pura dan Berandan juga sempat menghentikan total aktivitas belanja di Lau Chi.
”Saat ini, berdasarkan penuturan dari pedagang di Lau Chi, wilayah Tanjung Pura dan Berandan sudah memulai kembali berbelanja. Namun, rutinitas belanja dari wilayah Aceh Tamiang (Kuala Simpang) dan Kota Langsa masih sangat minim, atau bahkan bisa diabaikan. Hal ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi di Aceh Tamiang hingga Kota Langsa belum sepenuhnya pulih,” kata Gunawan.
Menurutnya, kondisi ini harus segera mendapatkan perhatian. “Kita berharap ada progres pemulihan segera untuk sejumlah wilayah tersebut. Karena kerugian yang diakibatkan bencana juga pada dasarnya dirasakan oleh wilayah lainnya. Geliat ekonomi yang terpuruk di wilayah bencana juga memberikan dampak buruk bagi aktifitas wilayah ekonomi lainnya, sekalipun wilayah tersebut relatif aman dari bencana,” tegasnya.
Gunawan Benjamin menambahkan bahwa minimnya belanja dari wilayah-wilayah tersebut (Aceh Tamiang, Langsa, Besitang, Berandan, Tanjung Pura) tidak serta merta harus diartikan sebagai minimnya pasokan bahan pangan ke wilayah terdampak.
”Tentunya uluran tangan dari kita semua untuk membantu keluarga kita yang tertimpa bencana, bisa membantah bahwa penurunan omset yang terjadi di Pasar Induk Lau Chi bukanlah gambaran ketiadaan bahan pangan bagi saudara kita yang tertimpa bencana,” tutupnya.(Siong)


