Jakarta, SeputarSumut – Kebiasaan makan sendiri, khususnya saat makan malam, baru-baru ini diungkapkan oleh studi terbaru dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental, terutama pada populasi lansia.
Kondisi ini sering dikaitkan dengan beberapa masalah, termasuk pola makan yang buruk, kurang gizi, dan penurunan berat badan. Semua faktor ini pada akhirnya berpotensi meningkatkan risiko kerapuhan mental.
Pernik Ragam: Dampak Mengejutkan: Makan Sendiri Pengaruhi Kesehatan Lansia
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Appetite, ditemukan bahwa individu yang makan sendirian memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami kelemahan fisik beberapa tahun lebih awal dibandingkan mereka yang makan bersama-sama.
Risiko Kesehatan Mental Akibat Makan Sendirian
Para peneliti dari Flinders University Australia telah melakukan peninjauan terhadap 24 studi yang diterbitkan dalam dua dekade terakhir. Studi-studi ini secara spesifik berfokus pada orang tua yang memiliki kebiasaan makan sendirian.
Dikutip dari Daily Mail, seiring dengan meningkatnya frekuensi makan sendirian, asupan protein harian partisipan dilaporkan menurun, dari 58 gram menjadi 51 gram.
Peneliti juga menekankan bahwa kegiatan makan bersama tidak hanya memupuk ikatan sosial yang lebih kuat, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan mental dan memberikan dampak positif pada pengalaman makan secara keseluruhan.
Manfaat Makan Bersama untuk Lansia
Terdapat perbedaan mencolok dalam kebiasaan makan pada orang lanjut usia (lansia) berusia 65 tahun ke atas yang tidak makan bersama teman sebaya. Kelompok ini cenderung menunjukkan pola makan yang lebih buruk dan asupan makanan bergizi yang minim.
Pada wanita, konsekuensi dari kebiasaan makan sendirian—yang menyebabkan konsumsi protein, kalium, dan nutrisi penting lainnya yang lebih sedikit adalah potensi timbulnya osteoporosis, suatu kondisi penipisan tulang.
Sementara itu, pria di Taiwan yang makan sendirian dilaporkan mengonsumsi sayuran hanya sekitar dua kali sehari. Namun, ketika mereka makan bersama, konsumsi buah dan sayur meningkat hampir dua setengah kali sehari.
”Perbedaan konsumsi buah dan sayur ini sangat kentara,” ujar salah satu peneliti. “Di Taiwan, individu yang makan sendirian hanya mengonsumsi sayur sekitar dua kali sehari, tetapi mereka yang makan bersama mengonsumsinya hampir dua setengah kali sehari.”
Selain bermanfaat bagi kesehatan fisik, konsumsi makanan sehat seperti buah dan sayur juga mendukung kesehatan mental. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa lansia di Swedia yang makan sendirian memiliki kemungkinan empat kali lipat lebih besar untuk mengonsumsi junk food dibandingkan mereka yang makan ditemani orang lain.
Guna mencegah berkembangnya masalah kesehatan ini, para peneliti menyarankan agar para profesional medis, termasuk dokter dan perawat, memasukkan pertanyaan rutin mengenai kebiasaan makan pasien lansia dalam setiap pemeriksaan.
“Bagi setiap keluarga yang memiliki orang tua atau kerabat lanjut usia yang tinggal sendirian, sarannya sangatlah praktis. Mengatur jadwal makan malam keluarga rutin atau janji makan siang bisa jadi sama pentingnya dengan nutrisi yang sebenarnya ada di piring,” tutup peneliti.(*/cnni)


