Jakarta, SeputarSumut — Sektor ekonomi di berbagai wilayah Indonesia mendapatkan stimulus besar dari mobilitas masyarakat dan peningkatan jumlah wisatawan domestik selama masa libur Idulfitri. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, mengungkapkan bahwa periode Lebaran tahun ini telah menjadi motor penggerak utama bagi perputaran ekonomi di daerah-daerah.
Efek positif dari kebijakan pemerintah dalam mengelola arus mudik ternyata melampaui sekadar kelancaran lalu lintas, melainkan juga memperkokoh aktivitas ekonomi lintas sektor. Lamhot menilai langkah-langkah strategis yang diambil telah memberikan dampak nyata pada penguatan ekosistem ekonomi lokal secara menyeluruh.
Sorot Politik: Ekonomi Daerah Terakselerasi: Momentum Lebaran Jadi Pendorong Utama Perputaran Uang Nasional
“Perayaan Lebaran secara konsisten menjadi pengungkit bagi ekonomi nasional, khususnya di tingkat daerah. Volume perputaran uang yang sangat besar selama momen ini menciptakan efek berganda yang luas bagi masyarakat,” jelas Lamhot Sinaga dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Tradisi mudik dipandang sebagai pemacu konsumsi masyarakat di berbagai lini, mulai dari industri transportasi, bisnis kuliner, hingga sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Data dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perputaran uang sepanjang periode hari raya ini mampu menyentuh angka hingga ratusan triliun rupiah.
Kondisi tersebut dianggap sebagai peluang emas untuk memperkuat struktur ekonomi di daerah melalui pemberdayaan sektor riil yang bersentuhan langsung dengan warga. Pemanfaatan momentum ini dinilai sangat strategis bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di luar kota-kota besar.
“Para pelaku UMKM harus sigap menangkap peluang ini dengan terus meningkatkan standar produk dan kualitas layanan mereka. Di sisi lain, pemerintah wajib memastikan kelancaran distribusi serta dukungan pembiayaan tetap berjalan optimal,” tambah Politisi dari Fraksi Partai Golkar tersebut.
Selain sektor UMKM, industri pariwisata juga diprediksi bakal meraup keuntungan signifikan selama masa libur panjang ini. Tingginya pergerakan orang dari satu wilayah ke wilayah lain secara otomatis akan mendongkrak tingkat okupansi hotel serta jumlah kunjungan ke berbagai destinasi wisata lokal.
“Kita memperkirakan akan terjadi lonjakan tajam pada tingkat keterisian hotel dan angka kunjungan wisata. Ini adalah kesempatan besar bagi tiap daerah untuk memutar roda ekonomi lokalnya,” papar Lamhot.
Potensi lonjakan kunjungan yang jauh lebih besar dibandingkan hari biasa diprediksi akan terjadi di daerah-daerah yang memiliki keunggulan wisata alam, kekayaan budaya, maupun daya tarik kuliner. Hal ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan domestik yang sedang pulang kampung atau berlibur.
Demi memaksimalkan potensi ekonomi tersebut, Lamhot menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur serta kualitas pelayanan di tiap lokasi tujuan. Aspek kebersihan, keamanan, hingga kemudahan aksesibilitas menjadi kunci utama dalam menyambut para pelancong.
Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat diperlukan guna mengelola lonjakan aktivitas ekonomi agar manfaatnya tersebar secara merata. Kolaborasi ini penting untuk memastikan setiap daerah bisa merasakan dampak positif dari keramaian Lebaran.
Menurut pandangan Lamhot, kelancaran distribusi ekonomi selama masa mudik juga sangat terbantu oleh kebijakan rekayasa lalu lintas dan optimalisasi layanan transportasi. “Potensi perputaran uang akan semakin besar seiring dengan semakin lancarnya mobilitas masyarakat di lapangan,” tegasnya.
Standar pelayanan yang prima juga diingatkan kepada para pelaku industri pariwisata agar tetap terjaga meski permintaan sedang meningkat drastis. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan sehingga mampu menjaga citra positif pariwisata daerah.
Sebagai penutup, ia berharap agar fenomena tahunan ini dapat dijadikan instrumen strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan ekonomi hingga ke pelosok. “Apabila dikelola secara profesional, mudik Lebaran bukan sekadar tradisi rutin, melainkan jembatan menuju pemerataan ekonomi nasional,” pungkas Lamhot.(*/dprri)


