seputar-Medan | Cap Go Meh merupakan akhir dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek yang dilakukan tiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa atau 2 minggu setelah Tahun Baru Imlek merupakan salah satu budaya etnis Tionghoa yang telah mengakar di Indonesia termasuk jenis makanan di dalamnya.
“Ini menjadi salah satu daya tarik bagi turis mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Satu negara dianggap beradab apabila bisa menghargai budaya orang lain kata Anggota DPR RI dr Sofyan Tan pada acara Open House dan Festival Cap Go Meh yang diselenggarakan Paguyuban Soasial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Sumatera Utara dan Medan di Jalan Budi Pembangunan I, Minggu (05/02/2023).
Info Medan: Festival Cap Go Meh PSMTI Sumut dan Medan, Sofyan Tan: Budaya Etnis Tionghoa yang Mengakar

Kegiatan perayaan Cap Go Meh yang dihadiri sejumlah Ketua Perkumpulan Marga etnis Tionghoa tersebut diisi makan siang bersama, pemberian paket sembako kepada anak-anak panti asuhan, hiburan tarian dan atraksi barongsai yang memberikan Tui Lien kepada tamu undangan yang hadir.
Sofyan Tan yang juga merupakan salah satu pendiri PSMTI Sumut menyatakan perayaan terkait dengan budaya bangsa yang bukan hanya etnis Tionghoa saja tentu bisa menjadi salah satu daya tarik bagi turis. Apalagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah melakukan survei dan ternyata sebanyak 60 persen turis yang datang ke Indonesia itu berkaitan dengan keinginan mereka untuk melihat budaya.

“Singkawang menjadi salah satu daerah yang selalu disuport dananya oleh Kemenparekraf untuk peraqyaan tersebut. Di Sumatera Utara sendiri Kemenparekraf juga mengakui penyelenggaraan Festival Budaya yang kita laksanakan beberapa waktu lalu bekerja sama dengan MITSU,”ungkap Sofyan Tan.
Ini artinya imbuh Sofyan, Kota Medan mampu menggelar berbagai kegiatan didukung Kemenparekraf seperti festival bakcang, chengbeng dan lainnya sekaligus menjadi agenda dalam kaitan mendorong turis agar datang ke Indonesia.
“Perayaan Cap Go Meh pada hari ke 15 yang digelar PSMTI Sumut dan Medan ini sekaligus menutup Hari Raya Imlek dengan harapan bahwa semua warga dan marga yang tergabung dalam organisasi sosial marga seperti PSMTI bisa hidup lebih sejahtera, damai dan mudah rejeki selalu,”ucap Sofyan Politisi Partai PDI-Perjuangan ini.
Sementara itu Ketua PSMTI Sumut, Tongariodjo Angkasa mengatakan, festival Cap Go Meh yang digelar PSMTI Sumut dan Medan merupakan satu kebanggaan bagi pihaknya di negara Indonesia terutama di Provinsi Sumatera Utara.
“Saya sebagai Ketua PSMTI Sumut merasa bangga bisa menggelar perayaan Cap Go Meh di awal tahun 2023 atau Imlek 2574 bersama PSMTI Medan. Ini merupakan awal penyelenggaran festival bagi kita sebab lantaran dua tahun lalu ada Covid-19 maka tidak kita laksanakan. Ini satu prestasi yang patut diapresiasi karena persiapannya juga sangat singkat hanya satu hari saja sudah bisa dilaksanakan dengan semarak,” ucap Tongariodjo Angkasa kepada awak media.
Menurutnya, perayaan festival budaya etnis Tionghoa bagi PSMTI Sumut yang berkolaborasi dengan PSMTI Medan untuk seterusnya merupakan satu kewajiban dalam menghargai kebudayaan sekaligus menambah khazanah budaya yang ada di negara tercinta ini.
Dalam festival Cap Go Meh yang berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan itu Tongariodjo Angkasa juga meneriakan kata-kata Heng, Hong, Huat kepada para tamu undangan yang hadir yang artinya bangkit terus, kuat dan banyak rezeki.
Sebelumnya Ketua PSMTI Kota Medan, Johan Tjongiran SH menambahkan, perayaan Cap Go Meh menjadi eksistensi PSMTI dalam mendukung kebudayaan Tionghoa. Harapannya, ini akan menjadi agenda rutin untuk ke depannya.
Johan juga berharap di tahun Kelinci ini, perekonomian Indonesia menjadi lebih baik lagi setelah beberapa tahun belakangan “digempur” pandemi Covid-19. Dengan begitu, masyarakat bisa bisa mencari nafkah dengan rasa aman dan tenang.
“Begitu juga dengan pandemi Covid-19 diharapkan benar-benar hilang dari muka bumi ini. Semoga PSMTI semakin maju dan semua sehat-sehat dalam menjalani aktifitas,”harap Johan Tjongiran.(Siong)
