Medan, SeputarSumut — Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat mulai membayangi awal pekan Februari 2026, dengan komoditas seperti cabai merah, daging sapi, hingga daging ayam yang menunjukkan tren peningkatan signifikan di pasar-pasar Kota Medan.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa berdasarkan pantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) serta pengamatan langsung di lapangan, lonjakan harga ini dipicu oleh faktor yang beragam mulai dari gangguan pasokan hingga pergeseran permintaan pasar.
Berita Ekonomi: Harga Bahan Pokok di Medan Naik Awal Februari
“Harga cabai merah pada akhir Januari terpantau masih di kisaran Rp29.400 per kg di Kota Medan, namun saat ini transaksi di lapangan sudah melonjak dan menyentuh angka Rp37.000 per kg,” jelas Gunawan Benjamin pada Kamis (5/2/2026).
Menurut analisanya, lonjakan harga cabai merah ini murni dipicu oleh masalah ketersediaan barang. Menurunnya jumlah pasokan dari sejumlah wilayah penyangga, salah satunya dari Kabupaten Batubara, mulai memberikan tekanan yang nyata pada harga jual di tingkat pedagang.
Kenaikan juga merembet pada komoditas protein hewani. Harga daging ayam di Kota Medan yang sebelumnya berada di level Rp41.000 per kg di akhir Januari, kini telah merangkak naik ke posisi Rp42.000 per kg. Fenomena serupa terjadi pada daging sapi yang semula Rp136.500 per kg kini dijual sekitar Rp140.000 per kg.
Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa penyebab kenaikan pada kedua jenis daging tersebut sangat berbeda. Untuk daging sapi, kenaikan harga jual di pasar lebih disebabkan oleh melambungnya Harga Pokok Produksi (HPP) yang memaksa pedagang melakukan penyesuaian harga demi menjaga margin.
Sementara itu, lonjakan harga daging ayam diduga kuat berkaitan dengan faktor permintaan baru di pasar. Gunawan menilai posisi ketersediaan stok atau supply daging ayam saat ini sebenarnya relatif stabil dan tidak banyak berubah jika dibandingkan dengan hari normal biasanya.
“Berdasarkan hasil observasi, kenaikan harga daging ayam diduga dipicu oleh permintaan yang naik. Dugaan kuat mengarah pada kenaikan permintaan dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), mengingat posisi pasokan dasarnya tetap stabil,” ujar Gunawan.
Meski demikian, Gunawan Benjamin optimistis bahwa isu kenaikan harga daging ayam ini bersifat sementara dan relatif mudah diatasi oleh para peternak. Selama biaya produksi tidak ikut membengkak, peternak diyakini mampu menyesuaikan volume pasokan untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut.
Apalagi saat ini harga jagung yang merupakan bahan baku pakan utama justru sedang mengalami penurunan dan ditransaksikan di kisaran Rp6.150 per kg. Kondisi ini memberikan ruang bagi produsen untuk menyeimbangkan pasar tanpa harus menaikkan harga lebih jauh.
“Peternak akan menanti bagaimana permintaan membentuk keseimbangan pasar. Setelah itu, mereka akan menyesuaikan pasokan untuk menciptakan titik keseimbangan baru. Urgensi tertinggi bagi pemerintah saat ini adalah mengendalikan pasokan dan harga bahan baku ternak, bukan membatasi sisi permintaan,” tutup Gunawan Benjamin.(Siong)


