Medan, SeputarSumut — Lonjakan harga pakan ternak secara beruntun sejak Februari 2026 dilaporkan terus menekan biaya produksi sektor peternakan hingga memupuskan harapan masyarakat untuk mendapatkan harga lauk yang terjangkau. Kondisi ini dipicu oleh tingginya harga bahan baku utama serta pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyampaikan bahwa harga bahan baku utama pakan yakni jagung terus bertahan di tingkat yang tinggi. Jagung pipil yang diterima oleh pedagang besar tercatat berada pada rentang harga yang cukup membebani pakan ternak.
Berita Ekonomi: Harga Pakan Ternak Melonjak Tekan Daya Beli dan Pemicu Inflasi
“Selama periode Februari 2026 hingga saat ini, harga pakan tercatat mengalami kenaikan secara terus-menerus tanpa ada kesempatan untuk mengalami penurunan. Harga bahan baku utama pakan ternak berupa jagung konsisten bertahan di atas Rp6.000 per kg di periode yang sama,” ujar Gunawan di Medan, Kamis (23/7/2026).
“Harga jagung pipil yang diterima pedagang besar berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.500 per kg,” tambahnya.
Selain komoditas jagung, pergerakan mata uang domestik turut menjadi faktor pendorong utama yang mengakselerasi kenaikan tarif pakan ternak di pasaran. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS memberikan tekanan tambahan pada biaya operasional.
“Selain harga jagung yang menjadi salah satu pemicu kenaikan harga pakan, mata uang Rupiah juga menjadi komponen lain yang turut mendorong kenaikan harga pakan itu sendiri. Selama periode Februari 2026 hingga saat ini, mata uang Rupiah ditransaksikan dalam rentang Rp16.750-an per Dolar AS hingga Rp18.150-an per Dolar AS,” jelasnya.
Eskalasi harga pakan ternak tersebut tercatat mengalami lonjakan hingga belasan persen, yang pada akhirnya mendongkrak harga pokok produksi secara signifikan di tingkat produsen.
“Sementara itu harga pakan ternak mengalami kenaikan beragam, dan berada dalam kenaikan belasan persen. Salah satu sampel harga pakan ternak menunjukkan kenaikan sekitar 12,2 persen selama periode tersebut. Sehingga pada dasarnya harga pokok produksi mengalami kenaikan, dan memupuskan harapan harga lauk murah bagi masyarakat,” paparnya.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional, komoditas daging ayam ditransaksikan rata-rata sebesar Rp38.900 per kg. Wilayah DKI Jakarta mencatatkan rata-rata harga Rp38.050 per kg pada 22 Juli, sedangkan Sumatera Utara menyentuh angka rata-rata Rp42.750 per kg pada tanggal yang sama.
Pengamatan mendalam pada lini pedagang pengecer juga memperlihatkan fluktuasi harga daging ayam yang sangat dinamis sepanjang periode beberapa bulan terakhir.
“Dari salah satu sampel yang saya amati pada pedagang yang sama, harga daging ayam ditransaksikan dalam rentang Rp28 ribu hingga Rp41 ribu per kg selama periode Februari hingga saat ini,” tuturnya.
“Harga terendah dicapai setelah ada libur anak sekolah dan berada di bulan Muharam, dan level tertinggi saat bersamaan dengan suasana Ramadan dan Idulfitri. Dan harga untuk saat ini di pedagang yang sama harga daging ayam dijual di kisaran Rp35 ribu per kg,” lanjut Gunawan.
Tren kenaikan ini tidak hanya terbatas pada komoditas daging ayam, melainkan juga merembet ke produk peternakan dan komoditas pangan utama lainnya di kawasan Sumatera Utara.
“Selain daging ayam, harga telur ayam dan daging sapi juga mengalami kenaikan selama periode tersebut. Harga telur ayam saat ini umumnya ditransaksikan di kisaran harga Rp1.600 hingga Rp2.200 per butirnya, sementara daging sapi ditransaksikan dalam rentang Rp145 ribu hingga Rp160 ribu di wilayah Sumut. Kenaikan harga pakan ternak akan mendorong kenaikan harga pokok produksi,” kata Gunawan.
Siklus penurunan harga lauk pauk tercatat hanya terjadi ketika tingkat konsumsi atau permintaan pasar mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Dan penurunan harga lauk terjadi saat ‘demand’ atau permintaan mengalami penurunan. Sangat berkaitan dengan program MBG, libur anak sekolah serta bertepatan dengan bulan Muharam,” terangnya.
Menghadapi situasi ekonomi mendatang, tantangan stabilisasi harga komoditas pangan diprediksi bakal semakin berat seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Tantangan pengendalian harga pangan ke depan tidak terlepas dari dinamika geopolitik, yang belakangan ini eskalasinya terus mengalami peningkatan,” tegasnya.
Tekanan terhadap daya beli masyarakat diperkirakan masih akan berlanjut jika tidak ada penanganan konkret, seiring dengan ancaman laju inflasi yang berpotensi melonjak tinggi.
“Daya beli masyarakat akan terus berada di bawah tekanan, serta ancaman inflasi tinggi akan terus mengintai. Pemerintah harus jeli merumuskan kebijakan untuk memitigasi atau bahkan mengintervensi baik dari sisi biaya produksi, hingga pembentukan harga pada level konsumen terakhir,” pungkas Gunawan.(Siong)

