Medan, SeputarSumut – Indeks kepercayaan konsumen di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan signifikan menjadi 84.5 pada bulan Januari, merosot dari posisi sebelumnya di angka 94.2. Pencapaian ini berada jauh di bawah ekspektasi pelaku pasar yang sebelumnya memprediksi angka di kisaran 90, sehingga fokus investor kini beralih sepenuhnya pada pidato Presiden AS, terutama setelah India resmi menyepakati kerja sama dagang dengan Uni Eropa.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait kondisi ini pada Rabu (28/01/2026). Ia menyoroti bahwa sentimen global saat ini sedang memberikan tekanan yang bervariasi terhadap instrumen keuangan di dalam negeri.
Berita Ekonomi: IHSG Melemah Tajam dan Harga Emas Kian Perkasa
“Penurunan indeks kepercayaan konsumen AS ini mencerminkan adanya keraguan pasar terhadap kekuatan ekonomi di sana. Hal ini secara langsung mempengaruhi bagaimana aset-aset berisiko dan aset aman atau safe haven bergerak dalam radar investor global,” ujar Gunawan Benjamin dalam keterangannya.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami pelemahan tajam hingga menyentuh level 8.393 pada sesi awal perdagangan hari ini. Kondisi ini diperparah oleh pengumuman dari pengelola indeks global, MSCI, yang membekukan sementara sejumlah perubahan indeks pada saham-saham di Indonesia.
Langkah pembekuan oleh MSCI tersebut diambil akibat meningkatnya kekhawatiran investor global mengenai transparansi data kepemilikan saham serta aspek investabilitas di pasar keuangan tanah air. Gunawan Benjamin menilai kebijakan MSCI ini menjadi beban tambahan bagi pergerakan indeks di zona merah.
“Pembekuan oleh MSCI adalah sinyal serius bagi pasar kita. Investor global sedang mempertanyakan aspek transparansi dan ini memicu aksi jual yang membuat IHSG berjibaku di zona merah di tengah minimnya sentimen positif domestik,” jelas Gunawan.
Berbanding terbalik dengan saham, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan kinerja positif dengan menguat ke posisi 16.730 per US Dolar. Penguatan mata uang Garuda ini dipicu oleh terpuruknya US Dollar Index (DXY) ke kisaran level 95, yang memberikan ruang napas bagi mata uang negara berkembang.
Gunawan memproyeksikan bahwa mata uang Rupiah masih akan bergerak cukup stabil namun tetap fluktuatif selama sisa hari perdagangan. Ia memperkirakan Rupiah akan bergerak dalam rentang harga antara 16.650 hingga 16.770 per US Dolar.
Sementara itu, instrumen emas menunjukkan performa yang sangat luar biasa dengan harga dunia yang kembali menanjak di kisaran $5.166 per ons troy. Di pasar Amerika Serikat, harga logam mulia ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi di angka $5.185 per ons troy, yang berimplikasi pada harga jual lokal di kisaran Rp2,8 juta per gram.
Menurut Gunawan Benjamin, lonjakan harga emas ini merupakan dampak dari memburuknya ekspektasi ekonomi masa depan setelah AS menebar ancaman kenaikan tarif terhadap Korea Selatan. Selain itu, tensi geopolitik yang kian memanas menjadi katalis utama bagi investor untuk mengamankan aset mereka.
“Emas semakin perkasa karena ketidakpastian global mencapai titik baru. Ancaman tarif terhadap Korea Selatan dan ketegangan geopolitik yang memburuk membuat emas menjadi satu-satunya pilihan paling logis bagi investor saat ini, sehingga harganya terus mencetak rekor baru di angka 2,8 juta per gram,” tutup Gunawan Benjamin.(Siong)


