Jumat, Juli 3, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Nasional

Indonesia Selamat dari ‘Sengatan’ Gelombang Panas

Oleh Redaksi 15
Senin, 6 Mei 2024
Foto: Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

seputar – Jakarta | Indonesia cenderung lebih adem ketika fenomena gelombang panas atau heatwave tengah ‘memanggang’ sejumlah negara di Asia dalam beberapa pekan terakhir. Apa alasannya?

Gelombang panas itu turut menyerang negara-negara tetangga Indonesia, seperti Thailand, Vietnam, Filipina, hingga Myanmar dalam beberapa waktu terakhir. Suhu di kota-kota besar di negara tersebut mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.

Lintas Nasional: Indonesia Selamat dari ‘Sengatan’ Gelombang Panas

Iklan Indako SeputarSumut

Otoritas Thailand bahkan mencatat 30 orang tewas akibat gelombang panas yang melanda Ibu Kota mereka, Bangkok.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap peningkatan panas di beberapa negara Asia, seperti di Oman yang mencapai 50,7 derajat Celsius, India 46,7 derajat Celsius, Myanmar 45,8 derajat Celsius, angka serupa hadir di Thailand dan Vietnam.

Menurut BMKG, sejumlah wilayah Indonesia sebetulnya mengalami suhu panas dengan nilai di atas 36 derajat Celcius, seperti Deli Serdang, Sumatera Utara (37,1 derajat Celsius); Medan Sumatera Utara (36 derajat Celsius); Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (36,6 derajat Celsius); Sidoarjo, Jawa Timur (36,6 derajat Celsius); dan Bengkulu sebesar 36,6 derajat Celsius.

Berita Terkait

Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Halmahera Utara Tidak Berpotensi Tsunami Menurut BMKG

BMKG Pastikan Potensi Gelombang Panas Ekstrem Eropa Sangat Kecil Terjadi di Indonesia

Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, mengatakan meski suhu di beberapa wilayah Indonesia itu cukup tinggi dan panas, namun hal tersebut tidak terkait dengan fenomena gelombang panas yang melanda sejumlah negara Asia.

Menurut Guswanto udara panas yang terjadi di Indonesia belakangan merupakan “fenomena yang bersiklus terjadi setiap tahun sebagai akibat dari adanya gerak semu Matahari dan kondisi cuaca cerah pada siang hari.”

Saat dihubungi beberapa waktu lalu, Guswanto juga mengungkap kalau kenaikan suhu di Indonesia merupakan fenomena cuaca panas terik bukan gelombang panas. Ia menjelaskan Indonesia tidak memenuhi syarat untuk mengalami gelombang panas.

“Itu kemungkinannya kecil [gelombang panas] di Indonesia, karena tidak memenuhi syarat,” kata Guswanto saat dihubungi, Kamis (2/5).

Guswanto menyebut syarat yang harus dipenuhi untuk wilayah mengalami gelombang panas adalah suhu rata-rata naik 5 derajat Celsius dan terjadi selama lima hari berturut-turut.

“Gelombang panas itu suhu maksimal harian lebih tinggi dari suhu maksimal rata-rata hingga 5 derajat Celsius, dan paling tidak muncul lima hari secara berturut-turut,” jelasnya.

Merujuk World Meteorogical Organization (WMO) istilah gelombang panas merupakan fenomena kondisi suhu udara panas yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih secara berturut-turut, dengan suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derajat Celsius atau lebih.

Fenomena gelombang panas ini umumnya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa, Amerika, dan sebagian wilayah Asia.

Secara meteorologis, hal tersebut dapat terjadi karena udara panas yang terperangkap di suatu wilayah dekat permukaan akibat anomali dinamika atmosfer, sehingga aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas, misalnya pada sistem tekanan tinggi skala luas dalam periode cukup lama.

“Kondisi atmosfer tersebut sulit terjadi di wilayah Indonesia yang berada di wilayah ekuator,” demikian keterangan BMKG dalam laman resminya.

Para pakar sepakat kerusakan iklim punya peran besar terhadap fenomena gelombang panas di kawasan Asia. Para ahli menyebut kerusakan iklim memicu cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, lebih sering melanda dan suhu rata-rata dunia makin naik.

Pemicu krisis iklim adalah aktivitas manusia terutama penggunaan berlebih bahan bakar fosil, yakni BBM dan batu bara.

Sebuah studi pada 2017 menyebut bahwa pada akhir abad ini perubahan iklim dapat menyebabkan gelombang panas dengan tingkat panas dan kelembapan yang melebihi batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup tanpa perlindungan.

Tanpa upaya signifikan untuk mengurangi emisi karbon, studi tersebut menyebut gelombang panas yang mematikan ini dapat mulai terjadi hanya dalam beberapa dekade mendatang dan melanda wilayah India, Pakistan, dan Bangladesh, termasuk daerah aliran sungai Indus dan Gangga yang subur dan menghasilkan sebagian besar pasokan makanan di wilayah tersebut.

Penelitian ini meneruskan laporan sebelumnya yang mengamati proyeksi gelombang panas di wilayah Teluk Persia.

Meski gelombang panas yang diproyeksikan untuk wilayah tersebut lebih buruk daripada di Asia Selatan, Eltahir mengatakan dampaknya di wilayah Asia Selatan bisa jauh lebih parah. Hal ini dikarenakan wilayah Teluk Persia memiliki populasi yang relatif kecil, relatif kaya, dan lahan pertanian yang sedikit. (CNN)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Antusiasme Libur Sekolah Tinggi, KAI Sumut Kembali Operasikan KA Sribilah Fakultatif Rute Medan-Rantauprapat
  • Sektor Jasa Keuangan Sumatera Utara Tetap Stabil dan Tumbuh Positif, Intermediasi Perbankan Berjalan Baik
  • Realisasi APBN Sumatera Utara Mei 2026 Optimal Dorong Pemulihan Pasca Bencana dan Berdayakan UMKM
  • Portugal Melaju ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Kroasia 2-1
  • Kesiapan Pelaksanaan Jambore Daerah Sumut ke XI 2026 di Bumi Perkemahan Sibolangit Dioptimalkan
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com