Medan, SeputarSumut – Kenaikan tajam tekanan inflasi di Sumatera Utara (Sumut) pada bulan Desember tercatat mencapai 1,66% secara bulanan (m-to-m), namun kondisi ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan produsen. Nilai Tukar Petani (NTP) di wilayah ini justru mengalami penurunan sebesar 1,82% secara bulanan, yang kini berada di level 146,61. Merosotnya NTP petani di Sumut tersebut terutama dipicu oleh penurunan di sektor tanaman perkebunan rakyat, tanaman pangan, serta sektor peternakan.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait fenomena ini pada Kamis (8/1/2026). Menurut pantauannya, pelemahan harga CPO di pasar global menjadi faktor utama yang menekan NTP sektor perkebunan. Sepanjang bulan Desember, harga CPO hanya bergerak di kisaran 3.900 hingga 4.160 ringgit per ton, angka yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pergerakan harga pada November yang sempat menyentuh level 4.200 ringgit per ton.
Berita Ekonomi: Inflasi Sumut Naik, NTP Petani Justru Merosot
“Penurunan NTP pada sektor tanaman perkebunan rakyat sangat dipengaruhi oleh anjloknya harga komoditas global selama Desember. Hal yang sama juga terlihat pada NTP tanaman pangan yang turun 1,88% ke level 103,78,” ungkap Gunawan Benjamin dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Gunawan menjelaskan bahwa fenomena di sektor tanaman pangan disebabkan oleh beban pengeluaran petani yang membengkak. Meskipun indeks harga yang diterima petani naik tipis sebesar 0,23%, kenaikan tersebut tertutup oleh lonjakan indeks harga yang harus dibayar petani yang mencapai 2,53%. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa biaya hidup dan modal tani meningkat jauh lebih cepat daripada hasil penjualan.
Kondisi memprihatinkan ini juga merambah ke sektor peternakan. Walaupun kenaikan harga daging ayam ikut menyumbang inflasi dan menaikkan indeks harga yang diterima peternak sebesar 0,9%, realitanya indeks harga yang harus dibayar mereka justru melonjak 1,98%. Akibatnya, NTP peternak terkoreksi turun 1,06% ke level 91,33.
Gunawan Benjamin menyoroti adanya selisih harga yang sangat lebar antara produsen dan konsumen sebagai masalah krusial. “Ini menunjukkan bahwa sekalipun Sumut mengalami inflasi tinggi—bahkan di Gunungsitoli Nias inflasi bulanannya menembus angka di atas 6%—ternyata ada gap yang terlalu jauh antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen,” jelasnya.
Terputusnya jalur distribusi disinyalir menjadi penyebab utama melebarnya selisih harga tersebut. Gunawan menilai petani kini berada dalam posisi yang sangat sulit karena meskipun mereka menjual komoditas dengan harga lebih mahal, kenaikan pendapatan tersebut tidak mampu menutupi lonjakan biaya pengeluaran mereka yang jauh lebih tinggi.
“Ini merupakan sebuah paradoks kehidupan petani di tengah situasi bencana. Petani ikut terpukul oleh lonjakan inflasi dan tidak sepenuhnya bisa menikmati keuntungan dari kenaikan harga yang terjadi di pasar,” tambah Gunawan.
Situasi ini dipandang sangat berbahaya bagi stabilitas ekonomi daerah. Menurut Gunawan, gambaran saat ini sangat jelas bahwa petani sedang mengalami tekanan modal yang hebat, sehingga mereka akan kesulitan untuk memulai kembali proses bercocok tanam atau berproduksi.
Sebagai langkah antisipasi, Gunawan Benjamin mendesak adanya campur tangan nyata dari pemerintah. “Jika tidak dibarengi dengan kebijakan intervensi untuk pemulihan proses bercocok tanam dan petani dibiarkan berjuang sendiri, maka kita harus siap menghadapi risiko laju inflasi yang tetap tinggi di masa depan,” tegasnya.
Bencana yang melanda Sumatera pada November lalu telah memberikan dampak ganda bagi sektor pertanian. Selain merusak pola tanam secara fisik, bencana tersebut juga telah menghancurkan daya beli masyarakat tani dan memperburuk angka kemiskinan di perdesaan akibat tekanan inflasi yang tidak terkendali.(Siong)


