Jakarta, SeputarSumut — Peristiwa penembakan berdarah melanda Kota Kyiv, Ukraina, pada Sabtu 18 April waktu setempat yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Dalam insiden mencekam tersebut, sebanyak enam orang dilaporkan meninggal dunia dan 15 orang lainnya mengalami luka-luka akibat aksi brutal seorang pria bersenjata.
Kronologi kejadian bermula saat seorang pelaku melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah warga sipil di sebuah jalanan umum. Setelah melakukan aksi di ruang terbuka, pelaku kemudian melarikan diri dan melakukan penyanderaan terhadap sejumlah pengunjung di sebuah supermarket.
Dunia Internasional: Insiden Penembakan di Kyiv Ukraina Enam Orang Tewas dan Belasan Luka dalam Dugaan Aksi Terorisme
Mengutip laporan dari CNN, Jaksa Agung Ukraina Ruslan Kravchenko mengonfirmasi bahwa pelaku merupakan seorang pria berusia 58 tahun yang lahir di Moskow. Pelaku akhirnya dinyatakan tewas di lokasi kejadian setelah pihak kepolisian melakukan operasi penindakan tegas untuk menghentikan aksinya.
Hingga saat ini, otoritas keamanan Ukraina masih terus melakukan penyelidikan mendalam guna mengungkap kronologi lengkap serta motif di balik serangan tersebut. Kravchenko menegaskan bahwa pihak kejaksaan menangani kasus ini dengan dugaan kuat sebagai tindakan terorisme.
Berdasarkan penjelasan resmi, pelaku mengawali aksi kejinya dengan melepaskan tembakan di wilayah distrik Holosiivskyi, Kyiv, yang secara langsung menewaskan empat orang warga. Tak berhenti di situ, ia kemudian membarikade diri di dalam supermarket Velmart, membunuh satu orang lagi di dalam gedung, dan menyandera para pengunjung yang terjebak.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, memberikan pembaruan informasi bahwa satu korban tambahan mengembuskan napas terakhirnya saat menjalani perawatan di rumah sakit. Dengan demikian, jumlah total korban meninggal dunia dalam tragedi ini menjadi enam orang.
Hasil laporan awal tim investigasi menunjukkan bahwa pria bersenjata tersebut beraksi dengan menggunakan senjata otomatis. Senjata yang digunakan dalam serangan mematikan itu diketahui berstatus terdaftar secara resmi di bawah kepemilikan pelaku.
Terkait kondisi 15 orang yang mengalami luka-luka, saat ini sembilan orang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sementara itu, enam orang korban lainnya sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis darurat oleh petugas di lokasi kejadian.
Seorang negosiator sandera dari pihak kepolisian bernama Valeriia menceritakan bahwa timnya segera meluncur ke lokasi setelah mendapat laporan keberadaan pria bersenjata di supermarket Velmart. Ia mengaku sempat berupaya menjalin komunikasi dengan pelaku selama kurang lebih 40 menit guna mencari solusi damai.
Dalam pernyataannya kepada Reuters, Valeriia menjelaskan bahwa meskipun operasi khusus telah diluncurkan, pelaku bersikap sangat tertutup. Selama proses negosiasi berlangsung, pria tersebut sama sekali tidak memberikan respons atau kontak balik yang kooperatif terhadap tim kepolisian.
Menteri Dalam Negeri Ukraina, Ihor Klymenko, mengungkapkan bahwa pasukan khusus akhirnya terpaksa melakukan penyerbuan ke dalam gedung setelah pelaku tetap bungkam. Dalam proses penangkapan tersebut, pelaku justru melepaskan tembakan ke arah petugas sehingga terjadi kontak senjata yang menyebabkan pelaku tewas tertembak.
Klymenko menambahkan bahwa berdasarkan pengamatan di lapangan, pria tersebut bertindak secara kacau dan sangat agresif. Pelaku diketahui mendekati setiap orang di sekitarnya dan melakukan penembakan dari jarak dekat tanpa keraguan sedikit pun.
Kabar baik datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang mengumumkan bahwa empat orang warga yang sempat disandera di dalam supermarket telah berhasil diselamatkan dengan aman. Pasukan khusus berhasil mengevakuasi mereka segera setelah pelaku berhasil dilumpuhkan.
Tim penyelidik kini sedang bekerja keras untuk mendalami latar belakang kehidupan pelaku serta mencari tahu motif utama serangan. Presiden Zelensky menekankan bahwa setiap detail terkecil harus diperiksa secara saksama untuk mendukung beberapa teori yang sedang didalami oleh penyidik.
Informasi tambahan mengungkap bahwa pelaku memiliki riwayat tinggal yang cukup lama di wilayah Donetsk dan memiliki catatan kriminal di masa lalu. Selain itu, Ruslan Kravchenko juga membeberkan fakta bahwa apartemen tempat tinggal pelaku ditemukan dalam kondisi terbakar hampir bersamaan dengan waktu terjadinya serangan di Kyiv.
Kejadian penembakan massal seperti ini sebenarnya merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi di Ukraina, meskipun tingkat kepemilikan senjata di kalangan sipil tergolong tinggi. Insiden kekerasan dalam skala sebesar ini hampir tidak pernah tercatat sejak meletusnya perang dengan Rusia pada tahun 2022 lalu.(*/cnni)


