Jakarta, SeputarSumut — Ketegangan mengenai aset nuklir kembali memanas setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa seluruh persediaan uranium yang telah diperkaya milik negaranya tidak akan dipindahkan ke lokasi mana pun. Pernyataan resmi ini dikeluarkan guna menyanggah klaim yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa pihak Teheran telah sepakat untuk menyerahkan bahan nuklir tersebut.
Esmaeil Baqaei mengklarifikasi bahwa dalam berbagai rangkaian pertemuan diplomatik, poin mengenai pengiriman uranium yang diperkaya ke Amerika Serikat tidak pernah menjadi agenda pembahasan. Hal ini sekaligus menepis narasi yang berkembang di media internasional mengenai hasil kesepakatan rahasia antara kedua negara yang selama ini bersitegang.
Dunia Internasional: Iran Bantah Klaim Donald Trump Terkait Penyerahan Persediaan Uranium ke Amerika Serikat
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Donald Trump sebelumnya sempat mengeklaim bahwa Amerika Serikat akan segera mendapatkan semua debu nuklir milik Iran. Istilah debu tersebut diduga merujuk pada cadangan uranium yang tertimbun akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat ke wilayah Iran pada tahun lalu.
Merespons klaim tersebut, Baqaei menjelaskan bahwa fokus utama negosiasi antara AS dan Iran pada pekan lalu sebenarnya adalah mengenai penyelesaian konflik secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa prioritas saat ini adalah mengakhiri peperangan, sehingga cakupan topik pembicaraan di meja perundingan menjadi jauh lebih luas dan beragam daripada sekadar masalah teknis nuklir semata.
Pihak Teheran juga melayangkan kritik tajam terhadap sikap Trump yang bersikeras mempertahankan blokade Angkatan Laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran hingga kesepakatan damai benar-benar tercapai. Padahal, Iran sendiri telah menyatakan secara resmi bahwa jalur strategis Selat Hormuz sudah dibuka kembali untuk aktivitas pelayaran.
Terkait status Selat Hormuz, Baqaei mengingatkan bahwa kendali atas jalur air tersebut ditentukan oleh fakta di lapangan, bukan melalui narasi di internet. Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran sudah sangat paham bagaimana harus bertindak secara tepat dalam merespons setiap manuver atau tindakan yang diambil oleh pihak lawan di perairan tersebut.
Berdasarkan data teknis, Iran diyakini masih menyimpan cadangan uranium dalam jumlah besar yang telah diperkaya hingga level 60 persen. Angka tersebut sudah sangat mendekati ambang batas 90 persen yang merupakan syarat teknis utama untuk memproduksi senjata atau bom atom.
Sebagai catatan historis, sebelum terjadinya serangan Amerika Serikat pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional atau IAEA melaporkan bahwa Iran memiliki simpanan sekitar 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen. Jumlah ini dinilai sangat jauh melampaui batas maksimal yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian nuklir tahun 2015, yakni sebesar 3,67 persen saja.(*/cnni)


