Jakarta, SeputarSumut — Ketua Parlemen sekaligus negosiator senior Iran, Mohammad Ghalibaf, melontarkan kritik tajam terhadap efektivitas upaya perdamaian yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ghalibaf secara terbuka meragukan niat tulus pemerintah Amerika Serikat dalam mengakhiri konflik yang telah pecah sejak 28 Februari lalu. Ia menilai bahwa Washington tidak sedang mengupayakan solusi damai yang adil, melainkan hanya ingin menggunakan forum diplomasi sebagai alat untuk memaksakan kehendak sepihak.
Melalui pernyataan resmi di platform X pada Senin, 20 April 2026, Ghalibaf menuding Donald Trump sengaja menerapkan blokade serta melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Menurut pandangannya, Amerika Serikat sedang berimajinasi mengubah meja perundingan menjadi sebuah meja penyerahan diri bagi pihak Iran. Lebih jauh lagi, ia menganggap langkah-langkah yang diambil AS hanya menjadi alasan pembenaran untuk memicu kembali eskalasi peperangan di kawasan tersebut.
Dunia Internasional: Iran Sebut Negosiasi AS Meja Penyerahan Diri dan Siapkan Kartu Baru di Medan Perang
Ketegangan diplomatik ini semakin memuncak dengan penegasan dari Ghalibaf bahwa Teheran tidak akan pernah mau bernegosiasi selama masih berada di bawah tekanan ancaman. Ia bahkan memperingatkan bahwa dalam kurun waktu dua pekan terakhir, militer Iran telah melakukan persiapan matang untuk menggunakan taktik atau kartu-kartu baru di medan tempur. Pernyataan keras ini secara otomatis menciptakan awan gelap bagi kelanjutan dialog diplomatik yang sedianya dijadwalkan berlangsung di Pakistan.
Di tengah penolakan dari pihak Iran, pihak Gedung Putih justru menunjukkan kesiapan untuk melanjutkan pembicaraan. Berdasarkan laporan dari Al Jazeera, pemerintah Amerika Serikat telah mengonfirmasi bahwa Wakil Presiden JD Vance ditunjuk sebagai pemimpin delegasi negosiator. Kelompok negosiator ini dijadwalkan mendarat di Islamabad, Pakistan, pada Selasa, 21 April 2026. Dalam kunjungan tersebut, JD Vance didampingi oleh figur-figur penting seperti Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner.
Meskipun delegasi Amerika Serikat sudah bertolak menuju Islamabad, Kementerian Luar Negeri Iran bersikap dingin dengan menyatakan bahwa untuk saat ini mereka belum memiliki rencana untuk duduk kembali bersama perwakilan Washington. Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran besar di tingkat global terkait potensi kembali pecahnya konflik fisik dalam skala yang lebih luas.
Situasi menjadi kian kritis mengingat batas waktu masa gencatan senjata selama dua pekan yang disepakati sejak 8 April lalu akan segera berakhir. Jika tidak ada terobosan diplomasi di Islamabad, maka masa tenang tersebut secara resmi berakhir pada Rabu, 22 April 2026. Hingga kini, publik dunia terus memantau apakah ketegangan ini akan berujung pada resolusi damai atau justru kembalinya kontak senjata antara kedua negara.(*/cnni)


