Jakarta, SeputarSumut — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri melayangkan desakan kuat kepada pihak Israel agar segera membebaskan para relawan kemanusiaan, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI). Para relawan tersebut diketahui tergabung dalam armada kapal pembawa donasi logistik kemanusiaan menuju Jalur Gaza, Global Sumud Flotilla (GSF), yang dicegat di kawasan laut Mediterania Timur. Kehadiran rombongan kapal GSF ini merupakan sebuah gerakan nyata untuk memasok bantuan darurat bagi masyarakat di Jalur Gaza, Palestina, pasca-penerapan blokade menyeluruh oleh Israel semenjak agresi meletus.
“Kementerian Luar Negeri mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional,” kata juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/5).
Lintas Nasional: Kemlu RI Desak Israel Lepas Sembilan Relawan WNI dalam Armada Bantuan Gaza
Yvonne menjelaskan bahwa jajaran Direktorat Perlindungan WNI Kemlu sejauh ini telah membangun koordinasi intensif bersama KBRI Ankara, KBRI Kairo, serta KBRI Amman. Langkah strategis ini ditempuh dalam rangka menyusun skenario antisipasi guna mengawal keselamatan sekaligus mempercepat regulasi kepulangan para relawan ke tanah air.
Di samping itu, Yvonne menambahkan bahwa koordinasi dengan bermacam-macam otoritas terkait terus digulirkan oleh Kemlu RI demi memantau status keamanan paling mutakhir dari para warga negara Indonesia tersebut. Otoritas diploma nasional pun telah mematangkan rencana kontingensi, yang di dalamnya mencakup pemberian jaminan proteksi hukum serta percepatan proses pemulangan jika kondisi di lapangan mengharuskan demikian.
“Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” kata dia.
Sikap tegas berupa kecaman mendalam juga disuarakan oleh otoritas Kemlu terhadap tindakan represif aparat bersenjata Israel atas para WNI yang ikut berpartisipasi dalam rombongan Global Sumud Flotilla (GSF).
“Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” kata Yvonne.
Sampai dengan laporan ini diturunkan, sekurang-kurangnya ada sepuluh unit kapal yang valid dinyatakan telah diringkus oleh otoritas Israel, yang mana beberapa di antaranya merupakan kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.
Merujuk pada data berkala yang dikeluarkan oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), salah satu WNI teridentifikasi berada di dalam kapal Josef atas nama Andi Angga Prasadewa, yang bertugas sebagai utusan resmi dari GPCI – Rumah Zakat. Sementara itu, satu kapal lain yang mengangkut awak media atas nama Bambang Noroyono dilaporkan masih mengalami putus kontak dan status operasional armada tersebut belum bisa dipastikan kejelasannya. Adapun GPCI sendiri bertindak sebagai wadah serta representasi delegasi nasional asal Indonesia yang menginduk pada konsorsium kemanusiaan GSF.
Berdasarkan rincian laporan yang masuk, akumulasi warga negara Indonesia yang diamankan oleh pihak Israel berjumlah sembilan orang. Identitas para relawan tersebut antara lain: Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo.
“Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami,” kata Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin dalam pernyataan resmi, Senin.
“Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia. Dan kami menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemানুsiaan di perairan internasional,” imbuh dia.(*/cnni)


