Jakarta, SeputarSumut — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini berada dalam posisi aman untuk mencukupi kebutuhan selama 23 hari. Angka tersebut diklaim telah memenuhi, bahkan melampaui standar ketahanan energi yang ditetapkan oleh pemerintah.
Dalam keterangan resminya, Bahlil menjelaskan bahwa posisi cadangan saat ini masih berada di atas ambang batas minimum nasional yang dipatok pada durasi 21 hari. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/3).
Berita Ekonomi: Ketahanan Energi Nasional: Bahlil Pastikan Stok BBM Aman Selama 23 Hari di Tengah Gejolak Global
“Rata-rata stok nasional untuk BBM, minyak mentah (crude), hingga LPG kita saat ini semuanya telah berada di atas standar minimum 21 hari,” ungkap Bahlil di hadapan media. Ia menegaskan bahwa seluruh lini pasokan energi dikelola untuk tetap berada di zona aman guna menjamin ketersediaan di masyarakat.
Pemerintah mengakui adanya batasan dalam meningkatkan stok lebih jauh karena kapasitas penyimpanan (storage) energi nasional yang terbatas. Saat ini, infrastruktur penyimpanan yang dimiliki Indonesia hanya mampu menampung pasokan maksimal untuk kebutuhan 25 hingga 26 hari saja.
“Faktanya, kekuatan penyimpanan energi kita memang berada di kisaran angka tersebut dan tidak bisa dipaksakan lebih dari itu,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar tersebut. Ia menilai penambahan volume impor tanpa didukung perluasan tangki penyimpanan tidak akan memberikan hasil yang efektif.
Kondisi infrastruktur yang ada saat ini dipandang Bahlil sebagai realitas yang harus dihadapi dan segera diperbaiki tanpa perlu menyalahkan pihak mana pun. Menurutnya, keterbatasan kapasitas tampung menjadi tantangan utama yang harus segera dicarikan solusinya oleh negara.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah telah merencanakan pembangunan fasilitas penyimpanan energi berskala besar yang mampu menampung pasokan hingga tiga bulan sesuai standar internasional. Proyek strategis ini direncanakan mulai dibangun tahun ini di wilayah Sumatera dan saat ini sedang dalam proses studi kelayakan (feasibility study).
Bahlil juga memberikan kepastian mengenai langkah-langkah mitigasi pemerintah dalam menjaga pasokan minyak mentah di tengah situasi Timur Tengah yang kian memanas. Gejolak yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu penutupan Selat Hormuz yang berdampak signifikan pada arus energi dunia.
Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang dilewati sekitar 20,1 juta barel minyak setiap harinya. Jalur ini juga menjadi lintasan utama bagi sebagian besar impor minyak mentah (crude) yang didatangkan Indonesia dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data kementerian, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dari Timur Tengah berada di angka 20 hingga 25 persen. Sisanya, kebutuhan dalam negeri dipenuhi melalui pasokan dari wilayah Afrika, Amerika Serikat, Brasil, serta beberapa negara produsen lainnya.
Guna mengantisipasi ketidakpastian konflik yang belum diketahui kapan akan berakhir, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengalihkan rute pengadaan minyak. Sebagian porsi impor minyak mentah yang biasanya berasal dari Timur Tengah kini mulai dialihkan pengambilannya ke Amerika Serikat demi menjamin kepastian ketersediaan stok.
Untuk jenis BBM dengan angka oktan RON 90, 93, 95, dan 98, Bahlil memastikan pasokannya tidak akan terganggu oleh penutupan jalur tersebut. Hal ini dikarenakan impor produk BBM jenis tersebut selama ini berasal dari wilayah lain di luar Timur Tengah, termasuk dari negara-negara di Asia Tenggara.
Terkait kebutuhan LPG, Indonesia mencatat kebutuhan impor sebesar 7,8 juta ton pada tahun ini, di mana mayoritas atau sekitar 70 persen sudah dipasok dari Amerika Serikat. Sementara itu, 30 persen sisanya masih bergantung pada produsen Timur Tengah seperti Saudi Aramco.
Sebagai langkah pengamanan terakhir, pemerintah juga tengah menyiapkan opsi pengalihan (switch) pasokan LPG dari negara-negara yang tidak terdampak oleh penutupan Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai strategi antisipasi risiko agar stabilitas pasokan energi rumah tangga tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global.(*/cnni)


