seputar-Medan | Koordinator Wilayah Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (Korwil PMPHI) Sumatera Utara Drs Gandi Parapat, merupakan salah seorang tokoh yang ikut mendeklarasikan Forum Rakyat Sumut di sekitar Istana Maimun, Sabtu (2701/2024). Usai deklarasi langsung ziarah ke Makam Pahlawan Jalan Sisingamangaraja, Medan.
“Ziarah itu dilakukan karena saya beberapa malam menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang, mimpi buruk. Saya sudah beberapa kali ikut Pilpres tidak pernah mimpi buruk,” aku Gandi Parapat menjawab awak media terkait mimpi buruk yang baru saja dialaminya.
Info Medan: Korwil PMPHI Mengaku Mimpi Buruk Menjelang Perhelatan Pilpres 2024
Saat didesak mimpi buruk yang bagaimana dirasakannya, Gandi mengaku biasanya kalau dia mengamati sesuatu atau menghadapi problema, mau tidur tetap berdoa dan sering ada jawaban atau pemberitahuan melalui mimpi.
“Jadi dengan tidak seirama lagi PDIP dengan Jokowi Presiden Republik Indonesia menambah kecurigaan dengan elit atau petinggi partai termasuk ke Jokowi yang saat ini kelihatan mengutamakan anaknya. Dulu PDIP tidak pernah kedengaran memprotes Jokowi dan memecat kader terbaiknya demi anak dan menantu Jokowi. Walaupun hal ini menurut kami penghormatan yang tidak masuk akal, akhirnya kami ikut dengan putusan PDIP memenangkan menantu Jokowi Bobby menjadi Wali Kota Medan,” ujar Gandi Parapat.
Sekarang, tambah Gandi, PDIP memprotes Jokowi habis-habisan seperti Food Estate. Jadi kalaupun ada kesalahan Jokowi dalam melaksanakan tugas Presiden dan sebagai petugas partai, menurutnya bukan semata kesalahan Jokowi.
Menurut Gandi, kalau tidak PDIP membuka kesalahan atau memprotes Jokowi seperti program Food Estate yang saat ini menanam jagung di pot di atas tanah yang begitu luas.
“Manaman jagung di pot di atas tanah yang begitu luas membuat kami tertawa karena Presiden Jokowi juga seperti bahagia dan bangga atas keberhasilan menanam jagung di pot di atas tanah yang begitu luas. Jadi kami perkirakan biaya satu pot jagung itu bisa biaya makan satu keluarga dalam satu hari. Karena biaya mulai dari pot, pupuk kompos, pupuk, bibit, pestisida. Karena perawatan di pot pasti lebih banyak biaya daripada di tanah bebas,” terang Gandi.
Gandi menambahkan, kalau PDIP dari dulu mau mengontrol atau memprotes Jokowi kebanggaannya itu, pasti PMPHI tidak curiga ke PDIP atau Ganjar. Tapi saat ini Ganjar getol memprotes Jokowi. Untung saja Jokowi seperti tidak perduli lagi ke Mega Ketum PDIP, sehingga rakyat bebas menilai Jokowi dan Mega.
“Jadi saya ziarah itu menceritakan atau memberitahukan kepada roh atau arwah para pahlawan, bahwa saya khawatir mengikuti situasi politik Pilpres 2024. Kenapa mesti ziarah ke makam pahlawan? Karena saya berkeyakinan roh atau arwah para pahlawan masih punya harapan agar kita ikut menjaga keutuhan NKRI,” papar Gandi.
Disinggung kenapa ziarah ke makam pahlawan hanya di pintu pagar masuk, Gandi menegaskan sangat menghormati arwah para pahlawan. “Untuk memasuki tempat harus permisi. Jadi memasuki tempat arwah para pahlawan harus resmi dan ada izin membuka pintu. Saya merasa itu pahlawan kita semua, saya menghormatinya walaupun dari pagar,” tutup Gandi. (RIL)


