Jakarta, SeputarSumut — Kondisi telinga berdenging atau yang dikenal secara medis dengan istilah tinnitus merupakan sebuah fenomena kesehatan di mana seseorang merasakan sensasi suara tertentu di dalam telinganya. Sensasi audio yang muncul tersebut bersifat internal karena tidak bersumber dari stimulasi suara di lingkungan luar, sehingga suara tersebut hanya dapat didengar oleh individu yang bersangkutan. Berdasarkan informasi yang dilansir dari situs resmi Eka Hospital, fenomena medis ini pada dasarnya bukan merupakan suatu penyakit yang berdiri sendiri, melainkan bertindak sebagai indikator atau gejala dari adanya gangguan kesehatan lain yang tengah terjadi di dalam tubuh seseorang. Salah satu faktor penyebab yang paling sering ditemukan di tengah masyarakat adalah adanya penurunan fungsi pendengaran yang terjadi seiring dengan pertambahan usia.
Wujud suara yang dirasakan oleh para penderita tinnitus memiliki variasi yang sangat beragam. Tingkat intensitas suara tersebut dapat terdengar sangat lirih hingga melengking tinggi, serta berpotensi mengganggu satu telinga, kedua belah telinga, atau bahkan terasa menggema di dalam kepala. Selain kemunculan suara ‘nging’ secara terus-menerus, para penderita kondisi ini pada umumnya juga melaporkan variasi suara lain meliputi sensasi berdengung menyerupai suara lebah, menderu layaknya tiupan angin kencang, bunyi klik yang muncul berulang kali, desisan atau siulan dengan nada tajam, hingga suara gumaman konstan.
Pernik Ragam: Mengenal Tinnitus Gejala Telinga Berdenging Jenis Faktor Pemicu dan Opsi Penanganannya
Dunia medis mengategorikan kondisi-kondisi di atas ke dalam kelompok tinnitus subjektif. Walau demikian, terdapat jenis lain yang lebih jarang terjadi pada beberapa kasus tertentu, yakni tinnitus pulsatif. Karakteristik dari kondisi ini ditandai oleh hadirnya suara berdesir atau berdenyut yang ritme bunyinya seirama dengan detak jantung penderita. Perbedaan mendasar dengan jenis subjektif adalah tinnitus jenis pulsatif ini bersifat objektif, di mana tim dokter dapat ikut mendengarkan suara tersebut secara langsung dengan menggunakan bantuan alat stetoskop.
Para ahli kesehatan hingga kini masih terus melakukan penelitian mendalam guna mengetahui mekanisme pasti di balik munculnya keluhan tinnitus. Meski demikian, dunia medis telah berhasil mengidentifikasi 10 kondisi klinis utama yang kerap menjadi faktor pemicu timbulnya telinga berdenging, yaitu:
1. Paparan Kebisingan Ekstrem: Berada di lingkungan yang bising dalam periode jangka panjang atau mengalami paparan suara dentuman keras secara mendadak seperti ledakan maupun tembakan dapat merusak sel rambut halus yang terletak di dalam telinga.
2. Degenerasi Pendengaran (Faktor Usia): Penurunan fungsi organ tubuh akibat proses penuaan dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan mendengar dan kerap kali memicu timbulnya keluhan tinnitus.
3. Penyumbatan Kotoran dan Infeksi: Penumpukan kotoran telinga (serumen) yang mengeras hingga membatu berisiko meningkatkan tekanan di dalam saluran telinga, di samping adanya peradangan akibat infeksi yang juga dapat memicu gangguan serupa.
4. Trauma Kepala atau Leher: Benturan atau cedera fisik yang mengenai area hulu tubuh memiliki risiko mengganggu struktur saraf maupun jaringan telinga bagian dalam.
5. Efek Samping Obat-obatan: Penggunaan jenis obat-obatan tertentu dalam takaran dosis tinggi dapat meracuni sistem pendengaran, seperti contohnya antibiotik khusus, kemoterapi, antimalaria, antidepresan, hingga obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
6. Penyakit Meniere: Merupakan bentuk gangguan kronis pada bagian telinga dalam yang dipicu oleh ketidakseimbangan tekanan cairan di dalamnya, di mana keluhan tinnitus biasanya muncul sebagai sinyal awal dari penyakit ini.
7. Gangguan Vaskular (Pembuluh Darah): Adanya malformasi pembuluh darah, masalah aterosklerosis atau penyumbatan arteri, serta kondisi tekanan darah tinggi yang berlokasi di dekat area telinga dapat memicu timbulnya suara denging.
8. Disfungsi Sendi Rahang: Masalah yang terjadi pada bagian sendi temporomandibular (TMJ) yang menghubungkan antara rahang dengan tulang tengkorak dapat memengaruhi tingkat sensitivitas pendengaran manusia.
9. Komplikasi Penyakit Kronis: Masalah telinga berdenging juga dapat dipicu oleh kepemilikan penyakit sistemik contohnya diabetes, anemia, gangguan pada kelenjar tiroid, serta kelainan autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis.
10. Masa Kehamilan: Adanya fluktuasi pada hormon reproduksi dan perubahan drastis dalam sistem sirkulasi darah selama masa mengandung kerap kali memicu timbulnya tinnitus yang bersifat temporer pada ibu hamil.
Sebagaimana yang dikutip dari Prevention, karena tinnitus pada dasarnya menempati posisi sebagai gejala sekunder, maka kunci utama untuk proses penyembuhannya adalah dengan cara mendeteksi dan mengobati akar penyakit utama yang mendasarinya. Dunia medis sendiri tidak menyediakan satu jenis obat tunggal yang dikhususkan untuk menghilangkan keluhan tinnitus secara langsung. Sebelum mengambil tindakan atau menentukan langkah penanganan, dokter spesialis THT pada umumnya akan menjalankan rangkaian pemeriksaan secara komprehensif kepada pasien, mulai dari audiometri atau tes pendengaran, pemeriksaan darah di laboratorium, hingga tindakan pemindaian akurat lewat bantuan CT scan atau MRI.
Berdasarkan pada hasil diagnosis yang telah ditegakkan oleh tim dokter, terdapat beberapa opsi penanganan medis yang dapat diterapkan kepada pasien, antara lain:
* Prosedur pembersihan saluran telinga dari sumbatan kotoran telinga atau cairan.
* Tindakan operasi atau terapi pemberian obat untuk memperbaiki gangguan pada pembuluh darah.
* Pemasangan dan penggunaan alat bantu dengar (hearing aid) apabila kondisi tinnitus disertai dengan penurunan fungsi pendengaran.
* Substitusi atau langkah penyesuaian dosis terhadap obat-obatan yang memicu efek samping suara denging.
* Sesi konseling bersama dengan psikolog atau psikiater jika kondisi tinnitus tersebut dipicu atau diperparah oleh adanya gangguan psikologis seperti gangguan kecemasan dan depresi.
Meskipun pada umumnya tidak dimasukkan ke dalam kelompok kondisi medis yang dapat mengancam jiwa, masalah tinnitus yang dibiarkan terus terjadi tanpa adanya penanganan tepat dapat merusak kualitas hidup dari penderitanya. Tekanan psikologis yang muncul akibat paparan suara bising internal yang tidak kunjung reda tersebut memiliki potensi untuk memicu timbulnya stres berat dan gangguan kecemasan, insomnia atau kesulitan tidur kronis, kelelahan fisik akibat kurangnya waktu istirahat, penurunan daya konsentrasi dan produktivitas kerja, hingga gangguan suasana hati (mood swing) serta sakit kepala akut.(*/cnni)

