seputar-Medan | Meski seumuran bayi dan merupakan tahun pertama, Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka sudah begitu banyak mendapat dukungan dari berbagai mitra, memiliki konsen yang sama untuk mengatasi permasalahan besar. Termasuk diantaranya 35 mitra, baik itu di dalam dan luar negeri.
Hal ini juga terbukti bahwa Universitas ST Bhinneka satu-satunya kampus dari Indonesia yang tergabung dalam Climate-U Network, berisikan universitas-universitas yang berkomitmen mengatasi perubahan iklim, menciptakan generasi-generasi yang tahan dengan iklim.
Info Medan: Meski Seumuran Bayi, Universitas ST Bhinneka Satu-satunya Tergabung di Climate-U Network
Demikian disampaikan Rektor ST Bhinneka Dr. Tracey Yani Harjatanaya, B.A., M.A., M.Sc, DPhil, pada puncak acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2023 Angkatan I Universitas ST Bhinneka Unity in Diversity, Sabtu (16/09/2023).
“Cocok sekali semuanya sejalan dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah. Ketika kami menyusun rencana strategis maka kami melihat apa yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara. Sehingga ketika lulus mahasiswa kita sudah dipersiapkan menghadapi era ketidakpastian yang kita tak tahu apa yang akan terjadi. Terpenting kita memantapkan kompetensi, keterampilan dan residensinya tanggap menghadapi ketidakpastian,”kata Tracey.
Selain itu kata Tracey, Universitas ST Bhinneka ingin membentuk lulusan inklusif berwawasan global, inovatif, jujur dan berakhlak mulia untuk membangun Indonesia yang berkelanjutan. “Makanya kami dari awal diskusi panjang lebar dengan berbagai pihak termasuk Mas Menteri untuk membangun ST Bhinneka mengikuti semangat kampus merdeka,” kata Tracey.
Kegiatan PKKMB 2023 dihadiri Sekjend Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Suharti, M.A.,Ph.D, Anggota DPR RI Komisi X PDI-Perjuangan, dr Sofyan Tan, Kepala Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP),Dr.Khadijah El Ramija S.Pi., M.P., Kepala Bagian Penelitian Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Dr.Hasrul Abdi Hasibuan dan para Rektor dari berbagai universitas di Indonesia.
Selanjutnya, Universitas ST Bhinneka juga memiliki cita-cita besar, tak bisa dipikul sendiri sebab masalahnya sangat besar mulai dari era serba ketidakpastian. Mengapa demikian, karena teknologi kini semakin canggih, banyak AI-AI (Artificial Intelligence) telah menggantikan peran dari manusia.
“Ada yang bertanya pada saya apakah dengan adanya AI angka pengangguran bakal meningkat. Jawabannya tergantung bagaimana kita menggunakan teknologi dengan bijak dan menjadi Master of Technology, bukan kita yang menjadi pembantu teknologi,” sebut putri sulung dr Sofyan Tan ini.
Selain itu, kondisi geo poltik global kini terguncang, termasuk di Indonesia juga terguncang, misi sosial meningkat, setelah pandemi angka pengangguran dan kemiskinan meningkat walau dari segi ekonomi inflasi relatif kecil dibanding negara lainnya.
“Begitu juga saat memasuki tahun politik, sentimen soal agama sering dipakai memecah belah bangsa Indonesia yang dibangun dengan keberagaman,”ujar wanita lulusan Universitas Oxford ini.
Belum lagi ada isu yang menyebutkan bahwa kita saat ini tak lagi di posisi berusaha menghindari krisis itu, tapi sudah berada di tahap kita harus beradaptasi terhadap suhu bumi yang terus memanas dan banyak ketidakstabilan di dalam bumi yang harus dihadapi.
dr Sofyan Tan dalam sambutannya mengatakan, Yayasan Sultan Iskandar Muda sebagai induk dari Universitas ST Bhinneka didirikan pada 25 Agustus 1987 akibat dirinya terlahir dari keluarga miskin, menumbuhkan kegelisahan akibat mengalami berbagai tantangan, perjuangan, keringat air mata serta melihat terjadinya ketidakadilan terhadap keluarga kurang mampu.
“Belum lagi konflik-konflik yang terjadi diakibatkan perbedaan suku, agama dan ras. Pengalaman pribadi, melihat sejumlah peristiwa terjadi tahun 1966, 1994 dan 1998. Ini membuat saya berpikir harus mampu melahirkan satu tempat pendidikan, menghimpun pelajar dari berbagai suku, agama, ras dan latar belakang. Tak ada perbedaan antara siswa keluarga kaya maupun dari keluarga miskin,” cerita Politisi Partai PDI-Perjuangan ini.
Awal berdiri sebut Sofyan, hanya ada 11 lokal dengan jumlah 171 siswa maka kini sudah mencapai 115 lokal dengan jumlah siswa mencapai 4.174 orang. Jika ditambah jumlah mahasiswa 1.500 maka totalnya 5.674 orang.
“Jumlah pegawai, guru dan dosen sebanyak 316 orang. Kontribusi Yayasan Sultan Iskandar Muda untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu adalah pemberian program anak asuh. Sekarang anak asuh mencapai 6.299 orang,”ungkap Sofyan.
Sekjend Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Suharti menyampaikan, saat Indonesia Emas pada tahun 2045 diwujudkan maka angkatan I mahasiswa/i Universitas Satya Terra merupakan bagian dari individu-individu produktif.
“Saat ini kalian masih berusia 17-21 tahun, tapi nantinya kalian yang menentukan akan kemana Indonesia ini,”tutur Suharti.
Suharti menyatakan ada 4 hal visi Indonesia Emas, pertama SDM berkualitas dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, ekonomi berkelanjutan.
“Apalah artinya ekonomi tumbuh tinggi tapi ternyata tak berkelanjutan dan tak merata. Kita ingin semua orang punya kesempatan sama, berkiprah di bidang masing-masing dan berkontribusi pada pembangunan Indonesia,”papar Suharti.
Ketiga sebut Suharti adalah pemerataan seperti bagaimana dilakukan Sofyan Tan memberi pendidikan seacara merata kepada keluarga kurang mampu hingga sarjana.”Tak ada yang tak mungkin. Itu adalah prinsip saya bahwa pendidikan amat sangat penting merupakan satu kunci membawa masyarakat naik ke level berikutnya,”imbuhnya.
Berikutnya sebut Suharti adalah memegang prinsip gotong royong dan bekerja sama merupakan salah satu kunci keberhasilan.”Hal sesulit apapaun akan mudah jika kita lakukan secara bersama-sama,”ungkap Suharti.(Siong)

