Medan, SeputarSumut — Potensi lonjakan harga bahan pangan pokok kerap menjadi tantangan setiap memasuki Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri. Fenomena ini biasanya dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat terhadap komoditas utama seperti beras dan minyak goreng di pasaran.
Guna mengantisipasi kondisi tersebut, Perum Bulog selaku operator pemerintah dalam penyediaan pangan terus melakukan langkah proaktif. Salah satu bentuk keseriusan tersebut ditunjukkan oleh Bulog Sumut yang secara rutin melakukan pengecekan ketersediaan stok langsung ke pasar-pasar tradisional untuk memastikan distribusi berjalan lancar.
Berita Ekonomi: Pantau Stok Pangan Jelang Ramadan, Dewas Bulog Lakukan Sidak di Pasar Kota Medan
Kinerja Bulog sebagai badan usaha milik negara saat ini difokuskan pada tiga pilar utama, yakni ketersediaan produk, keterjangkauan harga, serta stabilitas komoditas beras dan minyak goreng di tingkat konsumen. Hal ini menjadi prioritas utama demi menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi pasar.
Langkah konkret di lapangan terlihat saat Anggota Dewan Pengawas (Dewas) Perum Bulog Pusat, Irjen Pol. (Purn) Verdianto Bitticaca bersama Frans Dabukke, turun langsung meninjau Pasar Sei Sikambing, Kota Medan, pada Kamis (26/2/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk memvalidasi kondisi riil ketersediaan pangan di titik distribusi akhir.
“Tujuan kami adalah memastikan bahwa amanat pemerintah kepada Bulog dalam mendistribusikan beras SPHP dan minyak goreng telah dilaksanakan dengan baik di wilayah Sumatera Utara,” jelas Verdianto kepada awak media di sela-sela peninjauan tersebut.
Pemilihan Kota Medan sebagai lokasi sidak bukan tanpa alasan, mengingat kota ini merupakan salah satu acuan data inflasi oleh BPS. Pengawasan ketat diperlukan untuk mencegah adanya gangguan distribusi yang berpotensi memicu kenaikan harga yang tidak terkendali.
Dalam penjelasannya lebih lanjut, Verdianto memaparkan bahwa ketahanan stok beras dan minyak goreng di gudang Bulog saat ini berada dalam kondisi yang sangat aman. Khusus untuk wilayah Sumut, ketersediaan beras tercatat mencapai 52.000 ton, sementara stok minyak goreng tersedia sebanyak 1,7 juta liter.
“Cadangan beras kita dipastikan akan terus bertambah melalui hasil pengadaan gabah atau beras petani, dan kami siap melakukan pengiriman antarwilayah jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Untuk minyak goreng, pasokan dari pabrik terus mengalir setiap hari,” tambah Verdianto.
Program beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) akan terus digelontorkan ke berbagai warung sembako (RPK) dan pasar tradisional dengan harga eceran tertinggi Rp13.100 per kg atau Rp65.500 per kemasan 5kg. Sementara itu, komoditas Minyakita dipatok dengan harga maksimal Rp15.700 per liter di tingkat konsumen.
Di sisi lain, Frans Dabukke menekankan bahwa Bulog tetap gencar melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani lokal untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Langkah strategis ini diambil agar harga gabah di tingkat produsen tetap stabil dan terjaga di angka Rp6.500 per kg.
“Kami ingin semangat petani dalam memproduksi padi tetap tinggi. Oleh karena itu, perlindungan berupa jaminan harga yang layak atas hasil panen mereka menjadi perhatian utama kami,” tutur Frans memberikan kepastian bagi para petani.
Keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada beras pada tahun lalu menjadi catatan penting, di mana Bulog sukses menyerap 3 juta ton beras domestik. Target tersebut ditingkatkan menjadi 4 juta ton penyerapan pada tahun ini guna memperkokoh kedaulatan pangan nasional.
“Seluruh beras yang berhasil diserap nantinya akan dialokasikan untuk program SPHP, penyaluran bantuan pangan, hingga penanganan bantuan bencana alam seperti yang baru-baru ini melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” pungkas Frans mengakhiri keterangannya.(Siong)


