Jakarta, SeputarSumut – Langkah resmi pembubaran parlemen oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul kini telah membuka jalan bagi percepatan jadwal pemilihan umum. Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Thailand, secara resmi mengumumkan pembubaran parlemen pada Jumat (12/12).
Keputusan ini dilakukan setelah mendapatkan restu dari Raja Thailand Maha Vajiralongkorn melalui dekrit. Dekrit yang diterbitkan dalam Lembaran Kerajaan Thailand tersebut secara resmi menegaskan percepatan jadwal pemilu.
Dunia Internasional: Parlemen Thailand Dibubarkan, Pemilu Dipercepat
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mengesahkan dekrit pada hari Jumat sebagaimana diumumkan dalam Lembaran Kerajaan. Hal ini membuka jalan bagi pemilu yang dipercepat sesuai Undang-undang, yaitu harus dilaksanakan dalam jangka waktu 45 hingga 60 hari ke depan.
Sesuai dengan bunyi dekrit yang diterbitkan di Lembar Kerajaan, Dewan Perwakilan Rakyat resmi dibubarkan. “Dewan Perwakilan Rakyat dibubarkan untuk menggelar pemilihan umum baru bagi anggota Dewan,” demikian tertulis dalam dokumen tersebut, dikutip dari AFP.
Juru bicara pemerintahan Thailand, Siripong Angkasakulkiat, menjelaskan bahwa kebuntuan politik menjadi penyebab utama pembubaran ini. Pembubaran parlemen dilakukan setelah tidak tercapai kesepakatan dengan kelompok terbesar di parlemen, yaitu pihak oposisi dari Partai Rakyat.
Siripong menyatakan kepada Reuters bahwa kegagalan untuk mencapai kemajuan di parlemen adalah alasannya. “Ini terjadi karena kami tidak bisa maju dalam parlemen,” ujarnya.
Keputusan PM Anutin untuk membubarkan parlemen terjadi di tengah situasi genting di perbatasan. Thailand kembali terlibat perang dengan Kamboja di perbatasan saat pengumuman pembubaran dilakukan.
Situasi politik Thailand sedang mengalami kekacauan serius seiring meletusnya kembali konflik perbatasan dengan Kamboja. Konflik bersenjata yang sudah berlangsung selama empat hari itu telah menewaskan 20 orang dan menyebabkan 200 lainnya luka-luka.
Operasi militer Thailand di sepanjang perbatasan dipastikan tidak akan terpengaruh oleh pembubaran parlemen. Anutin telah mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa langkah pembubaran tersebut tidak akan berdampak pada kegiatan militer.
Kontak senjata telah terjadi di lebih dari belasan lokasi di perbatasan antara kedua negara. Beberapa bentrokan dilaporkan melibatkan baku tembak menggunakan artileri berat.(*/cnni)


