Jakarta, SeputarSumut — Aksi penyerangan terhadap sejumlah lokasi kepunyaan Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk dilancarkan oleh Korps Garda Revolusi Iran pada Sabtu (27/6). Langkah operasi militer tersebut dilakukan sebagai bentuk tindakan balasan atas gempuran yang sebelumnya telah dilakukan oleh pihak Amerika di wilayah Iran.
“Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas daripada ini,” ujar pihak Garda Revolusi, sebagaimana dikutip dari AFP.
Dunia Internasional: Korps Garda Revolusi Iran Serang Lokasi Milik AS di Kawasan Teluk Balas Gempuran Militer Amerika
Sebelumnya, Komando Pusat Militer (CENTCOM) Amerika Serikat (AS) memang didapati kembali meluncurkan serangan ke wilayah Iran pada hari Jumat. Pihak militer AS berdalih bahwa pelaksanaan operasi udara ini ditempuh sebagai bentuk respons terhadap aksi penyerangan yang menyasar kapal-kapal dagang saat sedang melintasi area Selat Hormuz.
“Sebuah pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta fasilitas radar di pesisir pantai,” ujar CENTCOM, melansir Anadolu.
Terkait teknis serangan tersebut, seorang pejabat senior AS memaparkan bahwa terdapat empat target di sepanjang garis pantai Iran yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz serta Pulau Qeshm yang luluh lantak dihantam oleh enam unit pesawat milik AS.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan bahwa pihak Teheran terdeteksi telah meluncurkan minimal empat unit drone serang yang diarahkan kepada kapal-kapal yang sedang berlayar di jalur Selat Hormuz. Dari total tersebut, Trump menyebut pasukan militer AS berhasil menghalau tiga unit drone, sementara satu unit drone yang tersisa luput dan menghantam kapal kargo hingga menimbulkan efek kerusakan.
Lewat pernyataan di akun media sosial pribadinya, Truth Social, Trump memberikan deskripsi mengenai serangan tersebut sebagai ‘pelanggaran bodoh’ terhadap kesepakatan perjanjian gencatan senjata yang ada.
Senada dengan hal itu, Wakil Presiden AS JD Vance turut melayangkan ancaman serius terhadap kubu Iran dengan menegaskan bahwa tindakan ‘kekerasan akan dibalas dengan kekerasan’.
“Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka telah memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana nota kesepahaman (MoU) diterapkan, mereka dapat menghubungi kami melalui telepon,” tulis Vande dalam unggahan media sosialnya.
Sementara itu, pihak Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada Kamis (25/6) sempat melaporkan bahwa ada sebuah kapal kargo yang terhantam oleh proyektil misterius yang tidak dikenal di kawasan lepas Pantai Oman. Walaupun insiden tersebut dipastikan tidak sampai menimbulkan korban jiwa, namun hantaman proyektil itu memicu kerusakan fisik pada bagian anjungan kapal.(*/cnni)


