Medan, SeputarSumut — Situasi pasar keuangan global maupun domestik menunjukkan pemulihan yang signifikan pada hari ini. Tekanan hebat yang sebelumnya menyelimuti pasar kini mulai mereda menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan bersejarah yang dimediasi oleh Pakistan tersebut membawa angin segar bagi para pelaku pasar. Berdasarkan pantauan pada sesi perdagangan pagi, bursa saham di regional Asia menunjukkan penguatan tajam yang mendorong mayoritas indeks masuk ke zona hijau. Tren positif ini turut menjalar ke pasar modal Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat signifikan pada level 7.160.
Berita Ekonomi: Pasar Keuangan Global dan Domestik Menguat Tajam Pasca Gencatan Senjata Iran-AS, Begini Analisis Gunawan Benjamin
Kondisi serupa terjadi pada nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda tercatat menguat tajam dan ditransaksikan di kisaran level 16.980 per US Dolar pada sesi pagi ini. Penguatan ini menjadi pemulihan yang berarti setelah pada perdagangan sebelumnya Rupiah sempat tertekan hingga menyentuh level 17.100 per US Dolar. Sementara itu, harga emas dunia juga tidak ketinggalan menunjukkan lonjakan tajam ke level 4.702 per ons troy, atau setara dengan kurang lebih 2,58 juta per gram.
Menanggapi dinamika ini, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, memberikan analisisnya terkait dampak stabilitas geopolitik terhadap indikator ekonomi makro. Menurutnya, meskipun durasi gencatan senjata ini tergolong singkat, dampaknya sangat krusial dalam memberikan napas bagi pasar.
“Gencatan senjata ini, walaupun durasinya terbilang sangat pendek yakni hanya dua pekan, terbukti efektif untuk sementara waktu meredakan tekanan hebat di pasar keuangan global. Pelaku pasar kini cenderung lebih berani masuk ke aset berisiko, namun mereka tetap akan sangat waspada memantau perkembangan di Timur Tengah menjelang berakhirnya masa tenggat gencatan senjata tersebut,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (08/04/2026).
Lebih lanjut, Gunawan menjelaskan bahwa faktor pendukung utama penguatan pasar kali ini tidak hanya berasal dari berhentinya kontak senjata, tetapi juga aspek logistik energi global. Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci utama yang mendorong penurunan harga komoditas energi secara signifikan.
“Kesepakatan ini yang dibarengi dengan pembukaan kembali akses Selat Hormuz secara langsung telah menekan harga minyak mentah dunia. Saat ini, baik jenis brent maupun WTI, harganya sudah berada di bawah level psikologis $100 per barel. Minyak jenis brent diperdagangkan di kisaran $94, sementara WTI berada di level $96 per barel,” jelas Gunawan.
Penurunan harga minyak mentah ini dinilai membawa implikasi positif terhadap ekspektasi inflasi global di masa mendatang. Gunawan menyatakan bahwa kondisi ini membuka peluang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka.
“Pelemahan harga minyak akan otomatis menurunkan tekanan inflasi di tingkat global. Hal ini kembali menghidupkan spekulasi dan harapan pasar akan kemungkinan adanya kebijakan moneter yang lebih longgar kedepannya, yang tentu saja menjadi sentimen positif bagi pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Namun, di balik optimisme yang muncul hari ini, Gunawan Benjamin tetap memberikan catatan peringatan bagi para investor. Ia menilai bahwa ketidakpastian belum sepenuhnya hilang dan pasar masih akan sangat sensitif terhadap isu-isu non-ekonomi dalam waktu dekat.
“Meskipun saat ini terjadi gencatan senjata, pasar tetap akan dibayangi oleh ketidakpastian dalam dua pekan ke depan. Isu geopolitik masih akan menjadi faktor utama yang mendominasi kinerja pasar. Selama ketegangan belum benar-benar selesai secara permanen, pasar belum akan sepenuhnya menjadikan data-data ekonomi fundamental sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan investasi,” pungkas Gunawan Benjamin.(Siong)


