Jakarta, SeputarSumut — Peristiwa tragis mengguncang wilayah Shreveport, Louisiana, Amerika Serikat, setelah seorang pria melakukan penembakan massal yang menewaskan delapan orang anak pada Minggu, 19 April 2026. Kejadian ini tercatat sebagai aksi penembakan paling mematikan di negara tersebut sejak awal tahun 2024. Dari total delapan korban jiwa yang masih berusia dini, tujuh di antaranya merupakan anak kandung dari pelaku itu sendiri.
Berdasarkan laporan dari Caddo Parish Coroner’s Office yang dilansir melalui CNN, para korban terdiri dari tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan dengan rentang usia antara 3 hingga 11 tahun. Identitas para korban yang meninggal dunia adalah Jayla Elkins (3), Shayla Elkins (5), Kayla Pugh (6), Layla Pugh (7), Markaydon Pugh (10), Sariahh Snow (11), Khedarrion Snow (6), dan Braylon Snow (5). Kedelapan anak tersebut merupakan tujuh saudara kandung dan satu orang sepupu.
Dunia Internasional: Penembakan Massal di Shreveport Louisiana Tewaskan Delapan Anak dan Mantan Tentara Menjadi Pelaku
Kronologi peristiwa berdarah ini bermula ketika pihak kepolisian merespons laporan adanya suara tembakan di area Cedar Grove sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat. Petugas menemukan para korban tersebar di tiga lokasi berbeda, yakni dua rumah di West 79th Street dan satu rumah lainnya di Harrison Street. Kopral Polisi Shreveport, Chris Bordelon, menyatakan bahwa area kejadian sangat luas dan banyak anak ditemukan sudah tidak bernyawa di lokasi.
Aksi pelaku sempat terekam oleh kamera pengawas milik salah satu warga sekitar yang memperlihatkan tersangka melarikan diri ke arah sebuah bengkel ban. Seorang saksi mata bernama Liza Demming, yang tinggal tidak jauh dari lokasi, mengaku melihat pelaku berlari keluar rumah. Demming juga memberikan kesaksian memilukan mengenai jasad seorang anak yang ditemukan berada di atas atap rumah dengan kondisi tertutup kain.
Pihak berwenang berhasil mengidentifikasi pelaku sebagai Shamar Elkins, seorang pria berusia 31 tahun yang diketahui merupakan mantan tentara. Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa motif di balik aksi keji ini diduga kuat berkaitan dengan permasalahan rumah tangga. Elkins tercatat pernah bertugas selama tujuh tahun di Louisiana Army National Guard hingga Agustus 2020 tanpa pernah dikirim ke medan tempur.
Dalam serangan tersebut, terdapat korban selamat yakni seorang remaja berusia 13 tahun yang mengalami patah tulang setelah mencoba menyelamatkan diri dengan melompat dari atap. Selain itu, dua wanita dewasa juga menjadi sasaran tembakan. Istri Elkins, yang merupakan ibu dari mayoritas anak tersebut, menjadi korban pertama yang ditembak dan saat ini dalam kondisi sangat kritis. Korban dewasa kedua, yang merupakan ibu dari anak kedelapan, juga menderita luka tembak yang mengancam nyawa.
Catatan kriminal menunjukkan bahwa Shamar Elkins memiliki riwayat kekerasan sebelumnya. Pada tahun 2019, ia pernah berurusan dengan hukum terkait kasus senjata api karena terlibat aksi saling tembak dengan orang lain di area dekat sebuah sekolah. Riwayat ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata yang melibatkan individu dengan latar belakang serupa di Amerika Serikat.
Pelarian Elkins berakhir setelah ia membajak sebuah mobil dan terlibat aksi kejar-kejaran dengan aparat kepolisian. Dalam upaya penangkapan tersebut, polisi akhirnya menembak mati pelaku. Wali Kota Shreveport, Tom Arceneaux, menyatakan bahwa insiden ini telah mengguncang mental seluruh warga kota dan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Data dari Gun Violence Archive menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2026 telah terjadi sedikitnya 114 insiden penembakan massal di Amerika Serikat. Anggota dewan kota, Grayson Boucher, menambahkan bahwa di kota Shreveport yang berpenduduk sekitar 180.000 jiwa ini, lebih dari 30 persen kasus pembunuhan yang terjadi dilatarbelakangi oleh konflik domestik atau masalah keluarga.(*/cnni)


