Jakarta, SeputarSumut — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara resmi menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai tren positif penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam aktivitas perdagangan internasional Indonesia yang terus menunjukkan kenaikan signifikan.
Lonjakan penggunaan mata uang lokal ini merupakan buah dari sinergi kebijakan yang erat antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengoptimalkan instrumen transaksi internasional.
Berita Ekonomi: Penggunaan Skema LCS Meningkat Pesat, Airlangga Hartarto Lapor ke Presiden Prabowo untuk Tekan Ketergantungan Dolar
Hingga saat ini, implementasi kerja sama LCS telah berjalan secara efektif dengan sejumlah negara mitra strategis, di antaranya adalah Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok.
“Kemudian sinergi kuat dengan BI dan juga terjadi peningkatan local currency settlement dengan negara-negara Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok,” papar Airlangga dalam sidang kabinet paripurna yang berlangsung di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Perlu dipahami bahwa LCS merupakan sebuah sistem transaksi perdagangan antarnegara yang memungkinkan penggunaan mata uang masing-masing negara tanpa perlu melibatkan dolar AS sebagai perantara. Mekanisme ini dirancang khusus untuk mereduksi ketergantungan terhadap mata uang Amerika Serikat serta meminimalisir tekanan pada nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data yang dipaparkan Airlangga, nilai transaksi melalui skema LCS melonjak tajam menjadi US$ 25,56 miliar atau setara Rp 431,96 triliun (kurs Rp 16.900), naik drastis dari periode sebelumnya yang hanya menyentuh US$ 12,9 miliar atau sekitar Rp 218,01 triliun.
“Jumlahnya naik US$ 25,56 miliar, Pak, dibandingkan tahun lalu hanya US$ 12,9 miliar,” jelasnya merujuk pada pertumbuhan volume transaksi tersebut.
Pemanfaatan mata uang lokal dalam perdagangan global dinilai Airlangga sebagai langkah krusial untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan mengurangi dominasi mata uang “Negeri Paman Sam”.
“Jadi kalau terus ini kita dorong maka kebutuhan terhadap dolar akan menurun, Pak Presiden,” tegas Airlangga dalam penjelasannya mengenai dampak jangka panjang kebijakan tersebut.(*/dtk)


